Menu

Abadi Bersama di Surga

Abadi Bersama di Surga

Menikah adalah ibadah mulia yang dianjurkaan oleh Islam. Menikah artinya telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya) dan sisanya yang setengah lagi hendaknya diisi dengan takwa kepada Allah SWT. Menikah membutuhkan kesiapan dan persiapan karena menikah bukan persoalan sehari, sepekan, sebulan, maupun setahun atau hitungan waktu, melainkan menikah adalah hidup bersama selama-lamanya hingga maut memisahkan, bahkan sehidup sesurga.

Islam sebagai agama petunjuk bagi pemeluknya memberikan tuntunan agar tidak tersesat dan salah jalan. Utamanya dalam hal berumah tangga, dari sejak memilih pasangan, proses menikah, dan serba-serbi persoalan yang terdapat di dalamnya sudah dipandu lengkap dan detail oleh agama supaya tujuan dari pernikahan itu sendiri terwujud dengan baik.

Sejak awal, Islam sangat menganjurkan untuk memilih agama sebagai landasan utama dalam memilih pasangan. Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa dari Abi Hurairah, ia berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat, yaitu harta, kemuliaan nasab, kecantikan, dan agamanya, pilihlah wanita yang taat kepada agamanya, maka kamu akan berbahagia (beruntung)” (H.R. Bukhari).

Di dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan beberapa kisah keluarga yang bertujuan untuk menjadi pelajaran (ibrah) bagi manusia setelahnya. Sebab itu, penting bagi keluarga masa kini untuk berkaca dan bercermin serta mengambil pelajaran pada tipe atau model keluarga masa lalu.

Pertama, ada model keluarga Abu Lahab, yaitu tipe keluarga yang paling buruk. Abu Lahab (nama lengkapnya adalah Abdul Uzza bin 'Abdul Muthallib dan panggilannya Abu Lahab artinya bapak dari api yang berkobar karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar), dan istrinya Ummu Jamil (Auraa'/ Arwa binti Harb bin Umayyah) keduanya adalah model keluarga yang enggan beriman, model keluarga yang ahli maksiat dan tidak mau menerima kebenaran yang datang. Dalam sirah nabawiyah, keduanya dikenal sebagai provokator kejahatan dan kebencian terhadap dakwah nabi dan umat Islam. Singkatnya, model keluarga sefrekuensi biang kerok dalam keburukan ini tidak pantas untuk dicontoh dan wajib dihindari.

Kedua, ada model keluarga Fir'aun. Dalam sejarah tercatat bahwa Fir'aun adalah manusia sombong dan angkuh mengaku dirinya sebagai Tuhan, enggan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebaliknya, istrinya bernama Asiyah tetap beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sehingga Asiyah tidak pernah sekalipun menyekutukan Allah SWT dengan cara menyembah Fir'aun. 

Model keluarga Fir'aun ini, yakni suami tidak taat dan istri taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Model keluarga ini juga dapat ditemukan dalam kehidupan masa kini, di mana suami menjadi provokator dalam setiap kemaksiatan dan kejahatan, meskipun istrinya berkali-kali menasihati. Model keluarga seperti ini akan menjadi ladang ujian bagi istri yang taat, maka istri dituntut untuk tetap konsisten (istiqomah) dalam ketaatan kepada Allah SWT. Bahkan, istri harus terus terdepan dalam mencegah dan menyelamatkan perilaku tercela suami. Istri model seperti ini bagaikan emas yang mulia. Meskipun ditempat dan bersama noda, emas tetaplah emas.

Berikutnya yang ketiga ada model keluarga Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., keduanya adalah nabi dan utusan Allah SWT. Namun, keduanya mendapatkan ujian yang sangat berat. Istri dan anaknya tidak beriman kepada Allah SWT dan menjadi penghalang dakwahnya. 

Kondisi tersebut digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran surat At-Tahrim ayat 10, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya masing-masing, maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari siksa Allah; dan dikatakan kepada keduanya: Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk neraka jahannam.”

Singkatnya, model keluarga Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., yakni suami taat, sedangkan istri tidak taat kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada jaminan seorang yang terhormat mendapatkan istri salihah. Meskipun demikian, tidak salehnya istri tidak membuat jati diri suami terjatuh dalam perilaku tercela.  Oleh sebab itu, diperlukan ketabahan suami dalam membina dan meluruskan tulang rusuknya dengan hati-hati dalam berkeluarga.

Yang terakhir keempat, yaitu model keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad SAW. Model ini termasuk satu dari para nabi dan rasul ulul azmi, yakni nabi yang paling banyak cobaan dan rintangan dalam berdakwah dan menjalani kehidupan.

Di dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa model keluarga Nabi Ibrahim a.s. merupakan keluarga utuh yang taat kepada Allah SWT, baik suami maupun istri-istrinya. Dari sanalah lahir anak-anak yang taat kepada Allah SWT hingga menjadi nabi dan rasul, dan lahirlah manusia mulia yaitu nabi Muhammad SAW. Tentu hal itu karunia Allah SWT bagi Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad SAW hingga namanya selalu akan disebut dalam setiap tahiyyat salat.

Seyogianya kita juga mencontoh doa Nabi Yusuf a.s. atas segala karunia yang telah Allah SWT berikan kepadanya dan segala ujian bertubi-tubi yang membuatnya tabah dan kuat, serta memohon dikumpulkan dengan orang-orang saleh. Allah SWT abadikan di dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 101 sebagai berikut: 
"Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, dan Engkau juga telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku yang selalu dekat denganku di dunia dan di akhirat, aku mohon kepada-Mu agar bila ajalku telah tiba, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku di akhirat kelak dengan orang-orang yang saleh."

***

Tujuan pernikahan yaitu sakinah mawadah warahmah. Sakinah adalah ketika melihat kekurangan pasangan, tetapi mampu menjaga lidah untuk tidak mencelanya. Mawaddah adalah ketika mengetahui kekurangan pasangan namun memilih untuk menutup sebelah mata atas kekurangannya dan membuka mata lain untuk berfokus pada kelebihannya. Dan rahmah adalah ketika mampu menjadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal untuk diri kita. 

Menikah itu bersatu dalam taat, mengalah dalam ego, serta melangkah dalam amal kesalehan, karena pernikahan adalah ibadah bukan semata mengejar kesenangan, tetapi menikah adalah pengorbanan meraih rida Allah SWT. Menikah itu karena Allah SWT dan yakin bahwa bersama pasangan kita surga akan terasa lebih dekat. Menikahlah dengan seseorang yang akan membuat kita jatuh cinta kepada Allah SWT setiap hari.

Waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang, maka pastikan kita melewatinya tanpa penyesalan di kemudian hari. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, maka hargai dan cintai apa yang kita miliki hari ini, hargai dan cintai siapa yang kita miliki hari ini.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, percayalah Allah SWT sedang menempa kesabaran kita untuk ujian rumah tangga yang lebih besar di depan nanti. Karena ujian pernikahan yang sesungguhnya adalah mencintai orang yang sama selamanya sampai surga-Nya.

Ustadz Syafiq Reza Basalamah hafidzahullah ta’ala pernah berkata, “Pasanganmu adalah rezekimu, pilihanmu, takdirmu, maka jangan memandang kepada selain milikmu, dan jangan membanding-bandingkannya dengan yang bukan milikmu. 

Apa pun itu, baik buruknya, manis pahitnya, senang sedihnya, mudah sulitnya, cepat lambatnya, semua adalah proses untuk mengokohkan diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa kepada Allah. ‘Ihtasib ‘alallah’, mintalah pahala kepada-Nya atas apa pun yang terjadi. Selamat merayakan cinta dan melukis cinta perjuangan dalam mengarungi samudera kehidupan berumah tangga, bersama hingga ke surga, abadi bersama di dalamnya, aamiin.

 

Kontributor: Aryan Andika. Penulis kelahiran Wonogiri, 4 Januari 1993. Alumni ponpes Manba’ul ‘Ulum Cirebon (2010) dan Mahad Aly An-Nuaimy Jakarta (2013). Aktivitas saat ini sebagai pendidik/ guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dan mata pelajaran Bahasa Arab di SMPIT-PPIT Al Huda Wonogiri serta sebagai PD (Pelatih Daerah) PPKB GPAI Kabupaten Wonogiri. Pernah menulis 2 buku solo yaitu Pepeling Diri (2023), dan Salatku adalah Hidup dan Matiku (2023), serta sudah menulis dua puluhan buku antologi lainnya. Mohon doanya sedang berproses dalam menulis karya selanjutnya. Untuk sambung silaturrahmi bisa melalui WA 081312489985 atau IG @nayra_akidna.