29 Januari 2024 10:00
Teknik Menulis yang Baik dan Benar Lanjutkan membacaGen Z, Kesehatan Mental, dan Al-Qur’an
Di tengah gemerlap era digital, Generasi Z berdiri sebagai pionir yang menari di ujung tombak perubahan. Mereka adalah anak-anak zaman yang tumbuh bersama layar sentuh, algoritma, dan notifikasi yang tak pernah reda. Media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka, membentuk cara mereka berpikir, merasa, dan memandang dunia.
Namun, di balik kemudahan akses informasi dan hiburan instan, ada harga yang harus dibayar: kesehatan mental yang semakin rapuh. Istilah "brainrot" atau "busuk otak" muncul sebagai cerminan fenomena ini—keadaan di mana pikiran terjebak dalam pusaran konten yang adiktif, sering kali dangkal, dan tanpa henti. Scroll tak berujung, video pendek yang memanjakan dopamin, dan tekanan untuk tetap relevan di dunia maya telah menciptakan ruang yang sesak, di mana jiwa merasa jengah dan hati kehilangan arah. Di tengah kegaduhan ini, Al-Qur’an hadir sebagai oase ketenangan, menawarkan makna abadi dan kedamaian bagi jiwa-jiwa yang resah, membuktikan relevansinya di tengah tantangan modern.
Kesehatan Mental Gen Z
Data statistik menunjukkan betapa seriusnya masalah kesehatan mental yang dihadapi Gen Z. Menurut laporan American Psychological Association (APA) pada 2023, sekitar 37% Gen Z melaporkan mengalami kecemasan, sementara 30% mengalami gejala depresi, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama. Studi lain dari Pew Research Center (2022) mengungkapkan bahwa 60% Gen Z merasa kesepian meskipun terhubung secara digital, sebagian besar karena tekanan sosial dari media sosial. Selain itu, sebuah penelitian di Turki yang dibagikan di X menunjukkan bahwa 93% Gen Z mengalami gangguan tidur akibat kebiasaan scrolling media sosial hingga larut malam.
Fenomena “brainrot” ini diperparah oleh algoritma platform seperti TikTok dan YouTube, yang dirancang untuk menjaga pengguna tetap terpaku pada layar. Riset dari University of Oxford (2023) menemukan bahwa penggunaan media sosial lebih dari 3 jam sehari, yang umum di kalangan Gen Z, berkorelasi dengan penurunan kemampuan konsentrasi dan peningkatan risiko gangguan kecemasan. Banjir informasi, perbandingan sosial, dan narasi toksik seperti body shaming atau cyberbullying hanya memperburuk kondisi ini, meninggalkan Gen Z dalam keadaan jengah dan hampa.
Media sosial, dengan segala pesonanya, adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menghubungkan manusia, memperluas wawasan, dan memberikan ruang untuk ekspresi diri. Namun, di sisi lain, ia juga menjadi ladang ranjau bagi kesehatan mental. Gen Z, yang menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar, sering kali terjebak dalam perbandingan sosial, kecemasan performatif, dan banjir informasi yang tak terfilter. Algoritma TikTok dan YouTube dirancang untuk membuat pengguna terus menonton, menciptakan pola adiksi yang sulit dilepaskan.
Istilah "brainrot" bukan sekadar guyonan di X atau meme di TikTok; ia menggambarkan kondisi nyata di mana pikiran kehilangan kemampuan untuk fokus, berpikir kritis, atau bahkan merasakan kedamaian. Konten yang berulang, sensasional, atau provokatif mengisi ruang mental, meninggalkan rasa hampa setelah dopamin sementara memudar. Tekanan untuk mengikuti tren, menjaga estetika online, atau mendapatkan validasi melalui like dan komen hanya memperparah situasi. Belum lagi cyberbullying, body shaming, dan narasi toksik yang kerap berseliweran, membuat Gen Z merasa terjebak dalam dunia yang serba cepat namun kosong.
Cahaya Al-Qur’an di Layar Ponsel
Di tengah hiruk-pikuk ini, Al-Qur’an hadir sebagai penyeimbang. Bagi banyak anak muda Gen Z, kitab suci ini bukan sekadar teks agama, melainkan sumber ketenangan yang menawarkan jeda dari kebisingan digital. Membaca Al-Qur’an, meski hanya beberapa ayat, menjadi semacam ritual penyembuhan. Ada kelembutan dalam irama tilawah, ada kedalaman dalam makna ayat-ayatnya yang terasa relevan di setiap zaman. Misalnya, ketika kecemasan menyerang akibat tekanan dunia maya, ayat seperti “Alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub” ("Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang") [QS. Ar-Ra’d: 28] terasa seperti pelukan hangat bagi jiwa yang resah. Al-Qur’an mengajak pembacanya untuk berpaling dari kebisingan dunia, mengingatkan bahwa nilai sejati manusia bukan terletak pada jumlah pengikut atau like, melainkan pada hubungan dengan Sang Pencipta dan kebaikan yang ditebar.
Relevansi Al-Qur’an bagi Gen Z tidak hanya terletak pada aspek spiritual, tetapi juga pada panduan praktisnya dalam menghadapi tantangan modern. Misalnya, ketika media sosial mendorong narsisisme atau keinginan untuk selalu tampil sempurna, Al-Qur’an mengingatkan tentang pentingnya ikhlas dan rendah hati, seperti dalam QS. Al-Hujurat: 11 yang melarang mencela atau merendahkan satu sama lain.
Ketika informasi berlebihan membuat bingung, Al-Qur’an mengajarkan untuk mencari kebenaran dan berpikir kritis, seperti dalam QS. Az-Zumar: 18 yang memuji mereka yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik. Bahkan dalam menghadapi tekanan mental, Al-Qur’an menawarkan perspektif bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Pesan-pesan ini terasa hidup, berbicara langsung pada hati Gen Z yang bergulat dengan overthinking, FOMO, atau rasa tak cukup.
Namun, tantangan terbesar bagi Gen Z adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari rutinitas di tengah distraksi digital. Membaca Al-Qur’an sering kali terasa seperti melawan arus; sulit untuk fokus ketika notifikasi terus berdenting atau ketika video TikTok berikutnya begitu menggoda. Di sinilah pentingnya kesadaran dan niat. Banyak anak muda kini mulai mengintegrasikan Al-Qur’an dalam cara yang relevan dengan gaya hidup mereka, seperti mendengarkan podcast tafsir, mengikuti akun media sosial yang membagikan ayat-ayat dengan penjelasan modern, atau bergabung dengan komunitas tadarus online.
Teknologi, yang terkadang menjadi sumber masalah, juga bisa menjadi alat untuk mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Aplikasi seperti Quran.com atau video YouTube tentang kisah-kisah Al-Qur’an membuat kitab suci ini lebih mudah diakses, bahkan bagi mereka yang selalu terhubung dengan dunia digital. Data dari Google Trends (2024) menunjukkan peningkatan minat terhadap konten Islami di kalangan anak muda, dengan pencarian seperti “tafsir Al-Qur’an” dan “Quran for mental health” meningkat hingga 25% dalam dua tahun terakhir.
Pada akhirnya, Al-Qur’an tetap relevan sebagai kompas bagi Gen Z di tengah badai digital. Dengan statistik yang menunjukkan tingginya prevalensi masalah kesehatan mental—37% mengalami kecemasan, 30% depresi, dan 93% gangguan tidur akibat media sosial—Al-Qur’an hadir sebagai penyeimbang yang menawarkan ketenangan, makna, dan arah. Ia bukan sekadar obat untuk jengahnya hidup, tetapi juga panduan yang mengajarkan ikhlas, ketabahan, dan kebenaran di tengah dunia yang penuh distraksi. Bagi Gen Z yang terus mencari pegangan, Al-Qur’an adalah cahaya abadi yang mampu menerangi jiwa, bahkan di era scroll tak berujung.