Menu

Jujur Itu Menenteramkan

Jujur Itu Menenteramkan

Seorang teman bersungut-sungut. 

“Sakit sekali hatiku, dibohongi seperti ini setelah jauh melangkah! Mengapa tidak berkata jujur saja sejak awal tentang keadaannya sehingga tidak menjadi ribet seperti ini. Urusan hati dan perasaan tidak mudah diselesaikan, bukan?”

Kekesalan dan penyesalan seperti ini bisa dan biasa kita dengar dari orang di sekeliling kita, atau diri kita sendiri, ketika menyadari sudah dibohongi sekian lama oleh orang terdekat. 

Perkara jujur dan bohong atau curang menjadi salah satu sifat manusia yang mungkin sudah ada sejak zaman manusia itu ada. Bagi sebagian kita sifat jujur menempati urusan teratas dalam rangkaian sifat terbaik dan ideal yang seharusnya ada pada manusia. Dengan berlaku jujur langkah menjadi ringan dan jauh dari gelisah. Sebaliknya sebagian dari kita dengan ringan dan enteng berbohong untuk tujuan apa pun dan pandai mengarang cerita dan alasan untuk mendukung kebohongannya.

Apakah Jujur Itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], jujur berarti lurus hati, tidak berbohong (berkata apa adanya), tidak curang atau mengikuti aturan yang berlaku, serta tulus atau ikhlas. Secara sederhana, jujur adalah kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Dalam bahasa filsafat jujur adalah bagian dari kebajikan dan kepatuhan moral yang mendalam, yang mencakup kesesuaian antara niat, perkataan, dan perbuatan. Bersikap jujur lebih daripada sekadar mengatakan kebenaran, tetapi juga menunjukkan autentisitas, integritas, transparansi, dan keberanian untuk bertindak sesuai dengan nilai moral. Sementara itu dalam sudut pandang psikologi, kejujuran dan interaksinya dengan dinamika mental adalah hubungan yang rumit yang melibatkan proses kognitif, persepsi diri, sisi emosional dan psikososial. Di dalamnya terlibat juga kecenderungan bawaan atau yang sudah tertanam dalam diri dan faktor situasional. 

Dari ketiga batasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa berlaku jujur adalah proses mental yang rumit dan merupakan bagian dari kebajikan moral yang menunjukkan kesesuaian antara perkataan, perbuatan, dan niat. Kejujuran dibangun melalui proses belajar dan latihan, dipengaruhi oleh unsur internal dan eksternal atau situasional. Bila terjadi ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan atau kenyataan maka bisa dikatakan sebagai kebohongan, dusta, curang, tidak jujur.

Dikutip dari tulisan ilmiah "Honesty: A multidimensional Study as Motivation for National Character Building" karya Fitriah M. Suud dan Abd. Madjid yang dimuat dalam Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary of Islamic Studies, Vol. 4 No. 1 Januari 2020 kejujuran adalah bagian dari kepribadian. Dia menjadi unsur keenam yang ditambahkan ke dalam lima dimensi utama model psikologi dalam mengidentifikasi sifat kepribadian manusia, yaitu keterbukaan (openness), kehati-hatian (conscientiousness), ekstroversi (extraversion), keramahan (agreeableness), dan neurotisisme (neuroticism), + kejujuran (honesty).

Dalam tulisan ini juga dijelaskan juga bahwa dimensi dan indikator kejujuran dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 

  1. Dimensi verbal: mengatakan sesuatu secara benar atau menceritakan sesuai apa yang terjadi. Ada kesesuaian antara apa yang dikatakan dan kejadian sesungguhnya, mengikuti aturan, atau janji yang dibuat. Contohnya adalah seseorang yang menceritakan keberadaan dirinya pada hari, tanggal, dan tempat tertentu dan sesuai dengan yang terjadi.
  2. Dimensi aksi atau tindakan: kejujuran dilihat dari kesesuaian antara yang dilakukan dan aturan yang berlaku; kesesuaian antara yang dilakukan dan yang dijanjikan. Contohnya Seorang siswa menjalani ujian akhir di sekolah tanpa menyontek atau melanggar aturan. 
  3. Dimensi situasi: kejujuran dilihat dari kesesuaian antara apa yang diniatkan atau diinginkan dan apa yang dilakukan atau tindakan. Contohnya seseorang mengatakan ketidaksetujuannya terhadap suatu hal secara asertif dan tegas walaupun di depan atasannya.

 

Berlaku Jujur dan Kesehatan Mental Individu

Riset ilmiah banyak meneliti pengaruh kejujuran pada kualitas hidup individu. Beberapa rujukan mengungkapkan bahwa kejujuran adalah kerja atau proses kognitif yang aktif dan melibatkan unsur neurologi dan psikologi. Aktivitas di nucleus accumbens (areal kunci pada otak di ventral striatum yang terlibat dalam urusan motivasi, penguatan, dan kesenangan) mendorong perilaku curang, khususnya pada individu yang sering berbuat curang; sementara jaringan yang terdiri dari korteks posterior cingulate, persimpangan temporoparietal dan korteks prefrontal medial, mendorong perilaku jujur, khususnya pada individu yang umumnya selalu bersikap jujur.

Lebih jauh lagi pencitraan saraf atau neuroimaging juga bekerja ketika individu memilih untuk berlaku jujur atau berbohong. Ternyata individu memfungsikan kontrol kognitifnya ketika menolak kecenderungan alamiah seseorang untuk menghadapi atau menjauh dari berlaku jujur. Pada individu yang jujur untuk berlaku curang maka korteks prafrontalnya menggunakan lebih banyak kontrol untuk menekan insting kejujuran mereka. Pada orang yang tidak jujur untuk berlaku jujur maka otak mereka bekerja lebih berat dalam menekan kecenderungan untuk berbohong.

Dari sisi psikologi, sejumlah artikel populer ilmiah mengungkapkan bahwa kejujuran secara positif berkorelasi dengan kontrol diri dan kepuasan hidup individu. Kejujuran bahkan berdampak besar bagi kesehatan fisik dan mental dan mengarah pada kebaikan dan kebahagiaan individu. Bersikap jujur mampu mengurangi stres dan risiko depresi, terhindar dari kecemasan dan kegelisahan serta menumbuhkan hubungan yang baik dalam lingkup sosial dan meningkatkan harga diri. Seorang individu yang jujur dengan diri sendiri dan lingkungannya hidup sesuai dengan nilai dan aturan, fokus pada tujuan dan arah hidupnya, membangun keselarasan antara kata dan perbuatan, menjadikan pikiran dan hati tenang, dan selanjutnya memberi efek positif pada kesejahteraan psikologisnya. 

Sebaliknya, seseorang yang tidak jujur, manipulatif atau berbohong secara psikologis akan sulit untuk hidup tenang dan selalu dituntut untuk menciptakan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya sehingga memungkinkan meningkatkan stres dan kecemasan. Ketidakjujuran berdampak buruk pada kesejahteraan mental karena cenderung memicu rasa bersalah, malu, beban mental, dan konflik batin lainnya, termasuk mengikisnya kepercayaan sosial terhadap diri yang berujung pada perselisihan interpersonal dan mengundang tekanan emosional yang lebih besar lagi yang sangat boleh jadi berefek pada kondisi kesehatan fisik. 


Ketidakjujuran dan Mekanisme Pertahanan Diri

Berlaku tidak jujur atau berbohong berarti menyembunyikan kebenaran atau tidak mengatakan dan melakukan hal yang benar atau yang sesungguhnya terjadi. Ketidakjujuran atau berbohong umum dilakukan individu demi apa pun tujuannya. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menghadapi situasi membingungkan di mana batas jujur dan bohong begitu tipis bahkan berbaur. Apalagi di zaman dengan kecanggihan perangkat teknologi komunikasi dan keterhubungan sekarang ini, kita kerap tidak tahu suatu pesan yang masuk ke ponsel kita, bahkan dari orang yang kita kenal dekat, itu benar atau bohong belaka. 

Apa perlunya individu berbohong atau curang atau berlaku tidak jujur?

Aktivitas psikologi yang mendasari perilaku ini berkait dengan mekanisme pertahanan diri. Dalam kajiannya, Sigmund Freud, seorang neurolog dan penggagas awal aliran psikoanalisis yang mengedepankan ide, ego, dan superego sebagai tiga struktur kepribadian, mengemukakan bahwa mekanisme pertahanan diri adalah strategi bawah sadar individu dalam mengendalikan konflik internal dan eksternal dengan tujuan untuk melindungi dan menjaga keseimbangan egonya. Dalam bingkai ini perilaku tidak jujur dapat dipahami sebagai bentuk pertahanan diri individu demi menjaga keamanan dan keseimbangan egonya. 

Mekanisme pertahanan diri berupa perilaku tidak jujur atau berbohong ini pada intinya tentu saja berseberangan dengan atau menjadi “lawan” perilaku jujur. Berlaku jujur berarti pengungkapan pikiran dan perasaan yang sebenarnya, sementara mekanisme pertahanan diri justru menghambatnya. Berlaku jujur menuntun kepada sikap berani menghadapi kenyataan, sementara mekanisme pertahanan diri menyangkalnya. Mengungkapkan kejujuran menuntut individu untuk berani menghadapi rasa sakit, sementara mekanisme pertahanan diri dirancang untuk menghindarinya. 

Ada lima bentuk mekanisme pertahanan diri yang umumnya digunakan individu ketika berlaku tidak jujur, berbohong, atau berbuat curang. 

Menyangkal (Denial)

Menyangkal adalah bentuk mekanisme pertahanan diri berupa penolakan untuk mengakui kenyataan yang menyakitkan atau membuatnya cemas. Sebagai contoh seseorang yang menyembunyikan usia sebenarnya karena menolak untuk dikatakan tua. Baginya tua adalah diksi negatif yang menyiratkan ejekan pada kondisi fisiknya. 

Pembenaran (Rationalisation)

Mekanisme ini menciptakan alasan semu atau salah untuk memaklumi perilaku, pikiran, atau perasaan, yang secara normatif tidak diterima masyarakat. Pembenaran digunakan untuk menghindari kebenaran yang pahit atau sulit. Individu berbuat curang dengan menyontek ketika mengikuti ujian dengan alasan pembenaran bahwa semua orang melakukannya dan tes hanya formalitas belaka karena kemampuan sesungguhnya ada dalam kenyataan bukan dalam lembar jawaban ujian.

Represi (Repression)

Mekanisme ini adalah bentuk pemblokiran alam bawah sadar atas pikiran, kenangan, atau perasaan yang menekan dan menyakitkan dari alam kesadaran. Dengan memblokir kebenaran yang sesungguhnya, represi mencegah kemungkinan bersikap jujur dalam isu itu. Contohnya seseorang yang mengalami peristiwa traumatis bertahun silam menekan dalam dalam pengalaman tidak mengenakkan itu dalam ingatannya. Dia enggan menceritakannya dengan jujur dengan mengatakan tidak memiliki pengalaman traumatis. 

Proyeksi (Projection)

Mekanisme ini mengatribusi pikiran atau perasaan yang tidak berterima atau mengancam kepada orang lain. Dengan cara ini, individu menghindar untuk bersikap jujur tentang pikiran dan perasaan sejatinya. Contohnya seseorang yang merasa tidak pantas dan nyaman bila harus jujur dengan pikiran dan perasaannya terhadap seorang teman sehingga mengatakan bahwa temannya yang telah berlaku sesuatu padanya. A kesal pada B tetapi dia merasa tidak pantas dan nyaman bila berkata jujur dan mengatakan bahwa justru B yang kesal padanya.

Formasi Reaksi (Reaction Formation)

Mekanisme ini memungkinkan individu berlaku dalam cara yang berlawanan dengan perasaan mereka yang sebenarnya dan tidak dapat diterima. Dengan cara ini dia memalsu kenyataan untuk terhindar dari menghadapi kebenaran yang menyakitkan. Contohnya seseorang yang menyimpan dendam terhadap seorang rekan kerja justru malah bersikap sangat baik terhadapnya. 


Perilaku tidak jujur atau berbohong atau curang dilakukan demi untuk menjaga keseimbangan ego di antara tarik menarik dorongan id yang mendasari perilaku negatif dan tekanan superego seperti aturan, norma, atau ajaran positif.

Jadi, apakah kita tidak boleh berbohong sama sekali? 

Dalam keadaan tertentu di kehidupan sehari-hari berbohong bisa menyelamatkan diri dan berlaku jujur malah bisa menyudutkan diri. Kita toh tidak perlu jujur dan polos mengatakan bahwa masakan istri seringkali hambar di hadapannya atau orang lain; begitu juga tidak perlulah mengatakan “Tubuhmu terlihat berbobot sekali” pada kekasih hati walaupun sesuai kenyataan. 

Maka bersikap jujur atau berbohong adalah pilihan. Menentukan salah satunya menuntut kerja rumit aspek kognitif, neurologi, dan mekanisme pertahanan diri dalam menganalisis keadaan dan mengambil keputusan untuk memilih dan bertindak. Kita memiliki sistem nilai dan kepatutan untuk itu dan selanjutnya menentukan sendiri apakah kejujuran atau ketidakjujuran yang telah  menjadi karakter kuat kita. Namun, di atas semuanya, bila berlaku jujur itu amat berdampak dalam membangun mental yang sehat dan kesejahteraan psikologis, mengapa memilih berbohong secara sadar dan berkepanjangan? 

Jujur sajalah. Jauh-jauh hari Nabi kita, Muhammad Saw, telah berkata bahwa jujur itu menenteramkan hati dan pikiran, sedangkan berbohong dapat menjadikanmu bimbang [HR Tirmidzi].

Kontributor: Ratih Ramelan
Master Humaniora bidang Psikolinguisik, penerjemah paruh waktu untuk buku dan web novel dan penulis yang masih terus belajar. 
Kontak: ramelanratih63@gmail.com