Menu

Mengenal Rambu Solo Upacara Adat Suku Toraja Melalui Cerpen di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon Karya Faisal Oddang

Mengenal Rambu Solo Upacara Adat Suku Toraja Melalui Cerpen di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon Karya Faisal Oddang

Suku Toraja merupakan salah satu suku yang terkenal dengan kebudayaan pada dunia pariwisata. Suku Toraja bermukim di daerah pegunungan bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan dengan penduduknya yang mayoritas beragama Kristen, sebagian Islam, dan beberapa lainnya menganut ajaran Aluk To Dolo, agama Hindu Dharma. Sejak zaman leluhur sampai saat ini, Suku Toraja memiliki tradisi upacara adat yang menarik perhatian turis untuk datang. Salah satunya adalah Rambu Solo, upacara adat kematian yang tujuannya untuk menghormati arwah dari seseorang yang telah meninggal.

Rambu Solo dikenal sebagai Aluk Rampe Matampu. Upacara ini dilaksanakan pada waktu matahari akan terbenam dan tidak dilakukan di pagi hari. Upacara tersebut mengandung adanya dimensi religi dan sosial. Pada upacara Rambu Solo, religiusitas terletak pada animisme yang tidak terpisahkan dari nilai dan kepercayaan masyarakat Toraja. Dalam pelaksanaannya, Rambu Solo erat kaitannya dengan strata sosial masyarakat Toraja. Hal tersebut yang membedakan antara Rambu Solo dengan upacara adat lainnya yang terdapat dalam budaya Indonesia.

Upacara Rambu Solo menjadi salah satu ikon pada cerpen “Di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon” karya Faisal Oddang yang keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca. Diceritakan seorang bayi laki-laki bernama Runduma berasal dari kasta Tokapua (kasta bangsawan) yang meninggal dan menempati bilik tertinggi di pohon tarra (tempat pemakaman bayi di Toraja). Runduma lahir dari hasil zina Ambe (ayah) dan Indo (ibu) sebelum pernikahan. Kedua orang tuanya berasal dari kasta Tokapua, maka pernikahan yang akan dilangsungkan memiliki harga yang perlu ditebus.

Ambe Runduma terlilit utang untuk mahar pernikahannya sehingga menyebabkan ketidakstabilan emosi dalam diri Ambe Runduma. Pada suatu hari, kemarahan Ambe Runduma menggampar fisik istrinya, membuat Runduma kecil yang ketika itu berada di gendongan Indo, terpental dan membuat kepalanya berdarah. Runduma pun berakhir dalam dekapan tubuh Tarra.

Hal menarik tentang upacara Rambu Solo digambarkan oleh tokoh Lola Toding selaku bayi perempuan Tomakaka (kasta tengah) teman Runduma dalam tubuh Tarra, disebutkan bahwa upacara Rambu Solo merupakan upacara kematian yang dihadiri oleh sanak kerabat, puluhan kerbau, dan juga babi dipotong sebagai kurban dalam upacara tersebut. Lalu, apa saja makna simbolik dari kurban dalam upacara Rambu Solo?

Kerbau merupakan simbol kekayaan bagi masyarakat kasta bangsawan. Kerbau merupakan hewan domestik yang dimiliki oleh orang Toraja, tetapi tidak semua orang Toraja memiliki kerbau sehingga terdapat ungkapan Toraja bahwa orang kaya adalah orang yang memiliki banyak kerbau. Dalam konsep upacara Rambu Solo, persembahan kerbau sebagai hewan kurban memiliki makna bekal perjalanan bagi orang yang meninggal menuju tempat keabadian. Upacara Rambu Solo mementingkan kemegahan sebab adanya tenaga, waktu, dan dana dialokasikan untuk persembahan hewan kurban dalam upacara tersebut.

Dalam pelaksanaannya, kerbau merupakan syarat penentu tingkat upacara. Apabila kerbau yang dipersembahkan semakin banyak, maka semakin tinggi tingkatan upacara. Pada tingkat upacara tertentu, kerbau sebagai persembahan memiliki jumlah dan jenis yang ditentukan. Jenis kerbau menentukan nilai dari kerbau tersebut. Jenis kerbau dapat dilihat dari warna kulit, bentuk tanduk, dan ukuran tanduk. Dengan demikian, banyaknya jumlah kerbau yang akan dikurbankan sebagai persembahan mempresentasikan status kekayaan yang dimiliki oleh keluarga penyelenggara sehingga kerbau merupakan simbol penting bagi masyarakat Toraja sebab dapat menjadi penentu status sosial.

Pembahasan mengenai upacara Rambu Solo dalam cerpen “Di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon”, dimaknai sebagai upacara kematian yang meriah bagi mendiang yang telah meninggal dalam kondisi dewasa, sedangkan pemakaman bayi digelar secara sederhana dalam pohon tarra yang dipercaya adalah pengganti ibu untuk bayi-bayi yang telah meninggal. Hal tersebut terjadi pada Runduma, seorang bayi laki-laki yang dimakamkan dalam tubuh tarra dengan cara dipanjat menggunakan tangga agar bayi tersebut dapat diletakkan di tubuh tarra pada posisi tertinggi. Pemakaman bayi dalam masyarakat Suku Toraja ini telah dilakukan sejak lama dan dikenal sebagai makam passiliran.

Dalam cerpen dikatakan bahwa Rambu Solo dihadiri oleh sanak kerabat. Dapat diartikan jika Rambu Solo dalam cerpen tersebut memiliki sistem nilai berupa kekeluargaan. Bentuk kekeluargaan dalam cerpen tersebut dapat dilihat dari perkataan Lola Toding ketika mengajak Runduma melihat upacara Rambu Solo yang akan dihadiri oleh kedua orang tuanya, yang mana berarti kedua orang tua Runduma turut berpartisipasi dalam upacara pemakaman tersebut. Selain nilai kekeluargaan, upacara Rambu Solo dalam cerpen tersebut memiliki nilai prestise. Rambu Solo merupakan upacara adat yang digelar berdasarkan status sosial dari keluarga penyelenggara sehingga banyaknya kurban akan menjadi tolok ukur tingginya derajat keluarga tersebut. Pada cerpen “Di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon”, Rambu Solo yang akan diadakan digelar oleh keluarga dari kasta yang setara oleh Runduma sebab diceritakan bahwa kurban yang diberikan berwujud puluhan ekor kerbau dan babi sehingga terlihat jelas nilai prestise masyarakat dari kerabat Runduma dalam cerpen tersebut.

Cerpen “Di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon” mengandung beraneka ragam budaya dalam masyarakat Suku Toraja. Tidak hanya memperkenalkan upacara Rambu Solo, cerpen tersebut juga memperkenalkan hukum karma yang berlaku apabila melanggar ketentuan adat, juga dampak yang terjadi apabila seseorang berbuat kejahatan dengan menjual tulang-tulang yang ada di dalam tubuh tarra. Daun dari pohon tersebut dipercaya akan meranggas, dan menjadikan pohon tersebut tumbang sebab ada bagian yang hilang dari passiliran. Dari cerpen tersebut penulis telah menunjukkan betapa budaya yang kita miliki harus tetap dilestarikan dan juga masyarakat perlu menjunjung peraturan adat yang berlaku.

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/3f/Ritual_Rambu_Solo.jpg

Kontributor: Anisa Hidayati