Menu

Mie, Mi, atau Mee?

Mie, Mi, atau Mee?

Intro
Jumat, 29 Maret 2024, setelah sekian lama tidak bertandang, saya sekali lagi kembali ke sebuah lapak mi Jawa di bilangan Kaliurang. Tentu saja untuk mengulang memori akan kelezatan mi godoknya yang masih terekam di kepala. 

Hari itu, saya bukanlah yang pertama datang. Setelah memesan, saya tunggu dari kejauhan. Nampak sang juru masak dengan terampil memainkan spatula. Api daripada arang menyala-nyala. Dari wajan menguar aroma tumisan bawang lewat tarian bara raksasa. Dengan sigap, satu per satu antrean terlunaskan. Tak lama berselang, pesanan saya pun datang. 

Sepiring mi godok ukuran jumbo, lengkap dengan uap panasnya. Kaldu ayam yang keruh kekuningan, dihias seledri dan gorengan berambang. Kuah itu masih memiliki cita rasa sebagaimana yang dulu-dulu. Gurihnya bawang putih, kemiri, loncang (daun bawang), dan lada, berpadu dengan lelehan putih telur yang membuatnya terasa lebih creamy. Dua jenis mi berpadu saling berpilinan. Yang kuning lebih gempal, yang putih lebih ramping. Menciptakan tekstur campuran ketika dikunyah dalam sebuah kesatuan. Mereka kenyal dan tidak melawan. Suwiran ayam negeri sedikit-sedikit muncul ke permukaan. 

Sepuluh menit berlalu, gusi dan beberapa bagian mulut terasa bengkak. Tentu, ini efek daripada udang atau ebi yang menjadi bumbu rahasia sekaligus penyedap alami daripada kudapan ini. Maklum, alergi. Setidaknya, dengan itu saya bisa sedikit mengidentifikasi, bahan apa yang terkandung dalam makanan satu porsi. 

Setelah tandas satu piring, ada hal yang boleh dibilang cukup disayangkan. Yakni, nihilnya kerupuk dan acar dalam menu yang disajikan. Sesungguhnya, dua hal ini, walaupun perannya hanya sebagai pelengkap, justru menjadi penyeimbang akan tekstur mi yang lembut dan gurihnya kaldu yang hewani. Namun biarlah, porsinya yang gigantik dan kaldunya yang umami cukup menjadi obat rindu akan menu favorit ini. 

Melihat ke Belakang
Belum lama, saya dibuat penasaran, sesungguhnya, bagaimanakah asal-usul mi ada di Nusantara? Apakah ia sajian asli dari negeri Jawa? 
Rabu lalu (8/5), saya mencoba menghimpun informasi. Penelusuran saya awali dari toponiminya: mi. Seorang kontributor National Geographic, Agni Malagina, menjelaskan, bahwasannya, kata “mi” diserap daripada bahasa Hokkian (kaum Cina perantauan), “mian” yang berarti bahan makanan yang berasal dari tepung. Malagina menambahkan, makanan ini pernah populer di masa Dinasti Tang (618 – 907). Tak hanya Dinasti Tang, dalam artikel tersebut juga memuat dinasti Han dan Dinasti Song dalam perjalanan sejarah per-mi-an di bumi Tirai Bambu.

***

Melihat lebih jauh ke belakang, ada sebuah laporan penelitian oleh Houyuan Lu dan kawan-kawan yang dirilis tahun 2014 lalu. Jurnal ini sempat menggemparkan dunia. Musababnya, ia menampilkan bukti ilmiah tentang ditemukannya artefak mi berumur 4.000 ribu tahun! Tulisan yang sempat dimuat di Springer ini menampilkan foto mi yang ditemukan di Lajia, Cina. Paper arkeologi setebal 17 halaman ini juga secara detail menampilkan analisa spesies tanaman yang digunakan sebagai tepung mi, metode pembuatannya, dan musabab artefak berharga tersebut bisa terawetkan selama ribuan tahun. Ciamik!

 
Gambar 1. Penampakan mi yang memiliki usia 4.000 tahun, terawetkan oleh alam 
(Sumber: Houyuan Lu et al., 2014)

Selaras dengan Malagina dan Lu, tulisan Sher Mehra yang dimuat dalam blog kampusnya pun menjelaskan bahwa bahan makanan yang berbentuk seperti tali ini berasal dari Negeri Panda. Ia pula menambahkan informasi tentang negeri-negeri yang menginisiasi mi. Dua selain Cina yakni negeri Arab dengan menu “itriyah’, dan Italia dengan menu pasta-nya.

 
Gambar 2. Penampakan menu mirip mi dari Arab, itriyah 
(Sumber: Mehra, 2018)

Rasa penasaran tentang asal-usul mi tak berhenti hanya pada penelusuran di internet. Kami kami juga mencoba membuka forum tanya-jawab berkenaan dengan muasal mi di Surakarta. Diskusi berlangsung di sebuah grup Facebook, Solo Tempo Doeloe. Ada sekitar 350 komentar yang bercokol di sana. Mayoritas adalah pengalaman pribadi menikmati mi ayam ala Wonogiri di masa debutnya, sekitar tahun 80-an. 

Salah satu statement paling berkesan adalah komentar dari akun bernama Bang Andi Gendut. Ia menyampaikan, bahwasanya, mi ayam yang ada di Surakarta hari ini, mulanya berakar dari mi dengan resep Cina. Komposisi aslinya menggunakan daging dan minyak babi. Sekitar tahun 1970, terjadi salah satu fase asimilasi, yakni, orang Wonogiri yang sebelumnya pernah bekerja di warung mi Cina, membuat terobosan dengan mengganti daging utamanya menggunakan ayam. 

Gendut menambahkan, mi dengan bumbu babi kemungkinan sudah mulai dijajakan di Pasar Gede Surakarta sejak tahun 1.800-an. Kepopuleran mi dengan toping ayam baru marak di sekitar tahun 90-an. Adanya jarak yang cukup lama dari inisiasi dan masa masyhurnya adalah kekhawatiran akan bahan utamanya yang non-halal. 

 
Gambar 3. Eksistensi orang-orang Hokkian atau Cina perantauan bisa diidentifikasi lewat keberadaan bangunan dengan atap tapal kuda. Dua foto di atas memperlihatkan perbedaan dari waktu ke waktu. Lokasinya tepat di tepi Kali Pepe di bilangan Pasar Gede Surakarta. Foto lawas dicuplik dari KITLV

 

“Mie”, “Mi” atau “Mee”?
Bulan Mei ini saya dibuat kaget dengan sebuah kenyataan, bahwasanya, kosa kata “mie” tidak terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Usut-punya usut, ternyata, lema yang masuk ke dalam entri adalah “mi” – tanpa huruf “e” di belakangnya. Adapun makna daripada mi, di dalam kamus yang menjadi rujukan dalam penelusuran kata baku tersebut adalah bahan makanan dari tepung terigu, bentuknya seperti tali, biasanya dimasak dengan cara digoreng atau direbus, diberi daging, udang, sayuran, bumbu, dan sebagainya.

Peristiwa senada juga terjadi di Malaysia. Di negeri jiran tersebut, kata baku yang seharusnya digunakan adalah “mi”. Bukan “mee” dengan dua huruf “e”. Dalam Kamus Bahasa Melayu, mi didefinisikan sebagai bahan makanan yang rupanya seperti laksa, tetapi biasanya berwarna kuning (diperbuat daripada tebung gandum dan lain-lain).  

Menurut saya, hal ini cukup penting untuk diketahui oleh khalayak umum. Karena kata tidak baku “mie” cukup sering dijadikan bahan pembicaraan di dunia maya Indonesia. Informasi yang kami cuplik dari Google Trend sore ini (15/5) menyampaikan, kata kunci “mi” paling populer – kesemuanya menggunakan huruf “e” pada akhirannya. Mulai dari mie Solaria, mie cabe, mie kuah pekat, mie Bangladesh, mie ayam, hingga mie Gacoan. Pun demikian pula terjadi di Malaysia, kata “mee” jauh lebih populer dibandingkan “mi”. Nampak pada topik trendingnya, mee tarik jalan Sultan, mee goreng, mee tarik rebus dan Restoran Mee Kicap Ipoh. 

Epilog
Dari tulisan di atas, setidaknya kita bisa menjadi sedikit tahu perihal asal-usul mi di Nusantara. Selain itu, kita juga menjadi tahu penulisan kata “mi” sebagaimana di kamus. Untuk selanjutnya, kitalah yang menentukan, untuk memilih terus mempertahankan budaya penulisan mie dengan huruf “e” di akhirnya, atau tanpa “e” sebagaimana mestinya. Oke?

Oya, ngomong-ngomong, menu mi apa yang menjadi favoritmu? Kabar-kabar di kolom komentar ya, Sob! Semoga bermanfaat. 

Sleman, 15 Mei 2024

Bacaan

  1. 1Lü, Houyuan, Y. Li, J. Zhang, X. Yang, M. Ye, Q. Li, C. Wang and N. Wu. 2014. Component and Simulation of the 4,000-Year-Old Noodles Excavated from the Archaeological Site of Lajia in Qinghai, China. Chin. Sci. Bull. 59
  2. Malagina, Agni. 2021. “Pada Suatu Mi: Untaian Gastronomi dari Dinasti Tang sampai Majapahit”. nationalgeographic.grid.id/read/132641456/pada-suatu-mi-untaian-gastronomi-dari-dinasti-tang-sampai-majapahit. Diakses pada 8 Mei 2024
  3. Mehra, Sehr, Li and Ristaino. 2018. “Tracing the Origins of the Noodle”. scholarblogs.emory.edu/noodles/2018/07/08/tracing-the-origins-of-the-noodle. Diakses 8 Mei 2024
Kontributor: Nabris Mufti A. a.k.a Nobi merupakan seorang perancang grafis yang cukup senang mengonsumsi mi. Sebagai desainer, ia pernah menangani visual identity untuk International Conference on Biodiversity 2015 di Universitas Sebelas Maret. Ia juga pernah menangani desain untuk sebuah komunitas bahasa, Faktabahasa Solo di periode 2019/2020. Pada tahun 2021, karyanya yang berjudul “Membela Membeli (Discount is Ok, Not Buying Should be Cheaper)" dimuat dalam sebuah zine bikinan ASEAN Youth Forum, Yuwana Zine. Bila ada perlu, Nobi bisa disapa via instagram pribadinya, @poplilak.