Menu

Remaja dan Kesehatan Mental

Remaja dan Kesehatan Mental

Pernahkah Anda cemas karena sedang menunggu kabar kelulusan ujian? Atau, yang lebih berat sedikit, dada terasa seolah ditekan batu besar karena sedang memikirkan sebuah masalah yang rumit? Atau juga terserang penyakit kulit karena, ternyata, memendam sesuatu dalam pikiran begitu lama? Tentu pernah, walaupun dalam kadar bervariasi. Ya, secara sederhana, gejala ini dipahami sebagai bentuk adanya hubungan erat antara keadaan mental dan fisik kita. Bila fisik sedang terserang penyakit berat, pikiran akan ikut kalut. Bila perasaan dikejar ketakutan dan kecemasan, maka dampaknya akan terlihat pada gejala fisik seperti diare, alergi, kulit kering dan gatal. Gejala ini dikenal sebagai psikosomatis, dan sampai batas tertentu dianggap sebagai hal yang wajar kita alami.

Namun, bagaimana bila cemas, takut, atau tertekan karena kemarahan yang dipendam dalam, dialami individu dan berlangsung terus menerus? Tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari, hidup gelisah dan tak nyaman, atau bahkan bisa mengganggu siapa saja di sekelilingnya. Keadaan seperti ini sudah tidak wajar dan bisa dikategorikan ke dalam gangguan mental. Gangguan mental bisa mengenai siapa saja, kapan saja, dan oleh beragam sebab. Siapa sih yang tidak pernah mengalami takut, cemas, stres, tertekan, atau depresi? Siapa orang yang tidak pernah punya masalah di dunia ini?

Apakah kesehatan mental itu?

Kesehatan mental menjadi isu kita bersama. Dunia psikologi mengenal istilah psychological well-being atau kesejahteraan psikologis untuk menggambarkan keadaan kesehatan mental. Dalam sebuah tulisan ilmiah, Psychological Well-being (2008), karya peneliti Malika Alia Rahayu dari Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, konsep sejahtera atau well-being itu mengacu pada pengalaman dan fungsi psikologis yang optimal. Kondisi mental yang sehat tidak terlepas dari tiga unsur, yaitu (i) kebahagiaan (happiness), (ii) kesejahteraan (well-being), dan (iii) kepuasan (contentment). Artinya, kita bahagia, sejahtera, dan puas, maka kita sehat mental, dan sebaliknya. Tidak heran bila menjalani hidup sehari-hari dengan tenang, damai, punya tubuh sehat, kuat, pikiran tenang, jauh dari rasa gelisah, takut, atau cemas, dan mencapai keadaan bahagia lahir dan batin, adalah keinginan hakiki kita.

Bila memperhatikan kehidupan sehari-hari, betapa banyak iklan produk atau kegiatan demi kepentingan kondisi fisik. Hitung saja, vitamin, obat, diet makanan, artikel dan tips yang menjanjikan kebaikan bagi tubuh, atau video olahraga, pusat kebugaran, klub olahraga, beredar setiap hari, menawarkan banyak pilihan untuk membangun kondisi fisik ideal. Banyak waktu dan biaya kita habiskan untuk mencapai kondisi baik itu dan mempertahankannya.

Bagaimana dengan kondisi mental kita? Tentu tak kalah penting. Bahkan organisasi dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan 10 Oktober sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Dunia yang dikampanyekan setiap tahun demi mengingatkan warga dunia akan pentingnya kesehatan mental. Dalam artikel yang dimuat di situs resminya, PBB menyatakan bahwa secara global, 1 dari 8 orang hidup dengan keadaan mental bermasalah, yang selanjutnya berdampak pada kesehatan fisik, kesejahteraan diri, hubungan antarpersonal, dan kualitas hidupnya.

Untuk Indonesia sendiri, merujuk hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2018, lebih dari 19 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun, mengalami depresi. Angka di atas berbicara bahwa kesehatan mental adalah hal serius dan kita hadapi sehari-hari. Secara khusus, ternyata, remaja adalah masa rawan bagi individu mengalami gangguan. Mengapa demikian?

Remaja dan kesehatan mental

Remaja adalah satu tahapan kehidupan dalam garis hidup manusia, dengan klasifikasi usia 12-18 tahun. Pada rentang usia ini, individu tengah duduk di bangku SMP-SMA. Dengan kata lain, sebagian besar realita yang mereka hadapi sehari-hari adalah dunia sekolah. Tahapan ini dikenal sebagai masa yang bergejolak, sulit, penuh masalah, dan tantangan. Individu baru berpindah dari masa kanak-kanak, yang umumnya ditandai dengan kelekatan dan ketergantungan pada ayah dan ibu, ke masa di mana lingkungan sosial menjadi lebih luas, mulai longgar dari pengawasan orang tua dan keluarga, penyerapan sejumlah nilai baru di masyarakat yang baru dikenalnya, kelompok pertemanan yang lebih beragam, kebutuhan akan penerimaan diri yang besar dan tanggung jawab baru dalam mempersiapkan diri memasuki masa dewasa. Pada masa ini, remaja sibuk mencari identitas diri, menghadapi banyak dilema, juga mulai belajar mengambil keputusan. Remaja dituntut untuk bisa karena sudah besar dan bukan anak-anak lagi, sekaligus belum bisa berlaku banyak karena belum dewasa dan mandiri sepenuhnya. Saya ini siapa, akan ke mana, akan menjadi apa, harus bagaimana, dan seterusnya, adalah pertanyaan mendalam yang selalu melintasi alam pikiran dan berdampak pada suasana emosionalnya.

Masa remaja adalah masa yang rapuh. Hal yang orang dewasa anggap ringan dan remeh, tetapi tidak bagi mereka di rentang usia ini. Penerimaan diri atau kelompok atas dirinya adalah gudang akar masalah hingga terjadinya gangguan mental. Individu A yang tubuhnya tidak tinggi, kulitnya tidak putih, bisa jadi sulit menerima keberadaan dirinya, apalagi bila dia berminat atau berkecimpung di dunia yang mementingkan kesempurnaan fisik –tinggi, ramping, putih, mulus, cantik, tampan. Contoh lain adalah penerimaan kelompok atas dirinya. Individu B ingin sekali diterima sebagai anggota kelompok pertemanan yang keren dan populer di sekolah dan berusaha berlaku menuruti norma kelompok itu. Kemudian, kelompok itu tidak mengajaknya serta dalam suatu kegiatan tertentu sehingga menerima pengalaman itu sebagai penolakan kelompok atas dirinya yang sangat menyakitkan. Baginya ini adalah masalah besar. Penolakan itu begitu membekas dalam alam bawah sadarnya, membuatnya kesal dan marah demikian dalam atau dipikirkan terus-menerus. Batinnya bergejolak, emosinya meluap-luap tetapi tertahan, dan boleh jadi mengganggu fungsi diri yang lain, seperti makan, tidur, kegiatan sehari-harinya. Gangguan fisik-mental pun terjadi padanya.

Apa saja bentuk gangguan mental pada remaja dan apa sebabnya?

Secara umum, gangguan kesehatan mental yang dialami kelompok usia ini adalah kecemasan dan depresi. Kecemasan meliputi perasaan tidak nyaman, gelisah, atau takut secara berlebihan, termasuk di dalamnya gangguan stres setelah mengalami kejadian traumatis, gangguan kecemasan sosial, gangguan obsesi-kompulsi atau perilaku berulang-ulang, dan fobia atau ketakutan yang irasional terhadap sesuatu yang sesungguhnya tidak membahayakan; dan depresi yang mengganggu pikiran, perasaan, aktivitas sehari-hari, termasuk makan dan tidur, yang biasanya terkait dengan urusan sekolah, pergaulan dengan teman, atau pengambilan keputusan.

Dari laman Office of Population Affairs (OASH) yang bermisi mempromosikan rentang hidup sehat melalui kesehatan remaja dan program, pelayanan, kemitraan, riset dalam perencanaan keluarga, https://opa.hhs.gov/adolescent-health/mental-health-adolescents#, dikatakan bahwa kesehatan mental bukan sekadar ada atau tidak adanya gejala. Sinyal yang patut diwaspadai, antara lain adalah:

  • Hilangnya minat untuk melakukan berbagai aktivitas yang biasanya mereka nikmati
  • Kurang bertenaga atau lesu, tiada gairah
  • Sulit tidur atau hilang nafsu makan
  • Sering menyendiri dan menghindari kegiatan berkumpul dengan orang lain
  • Membahayakan keselamatan diri sendiri atau berlaku destruktif
  • Mengonsumsi alkohol, rokok, atau obat-obatan
  • Tersirat keinginan bunuh diri
  • Merasa pikirannya terkontrol oleh suatu kekuatan di luar dirinya

 

Adapun penyebab munculnya gangguan itu bisa dikategorikan ke dalam dua faktor besar, yaitu (i) faktor biologis, seperti gangguan pada fungsi saraf, infeksi atau cedera pada otak, gizi buruk, proses kelahirannya, juga unsur genetik seperti adanya anggota keluarga, ayah, ibu, kakek, atau nenek, yang juga mengalami gangguan, atau kecanduan narkotika; dan (ii) faktor psikologis, seperti penerimaan diri, penolakan lingkungan sosial, atau pengalaman traumatis yang mengguncang jiwa seperti wafatnya anggota keluarga, atau putus hubungan dengan kekasih.

Gangguan mental ini tentu dapat disembuhkan, apalagi bila gejalanya terdeteksi sejak dini. Pengobatan rutin atau terapi yang diberikan oleh ahlinya, seperti psikiater atau psikolog, meditasi, berlatih diri mengelola pikiran dan emosi, atau melalui pendekatan spiritual-rohani di bawah bimbingan guru yang mumpuni, adalah sejumlah cara yang bisa ditempuh untuk mencapai kesembuhan. Tergantung pada kadar dan kedisiplinan diri dalam berobat, Insya Allah, gangguan ini bisa diatasi, dikurangi, atau dihilangkan.

Mari menyadari bahwa kesehatan mental adalah hal yang rumit dan penting. Dengan mengenal keadaan fisik dan mental diri sendiri, kita akan semakin paham bahwa keadaan mental yang baik dan sehat adalah hal penting bagi keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan diri. Individu yang sehat fisik dan mental menjadi “aset” bagi terbentuknya keluarga, masyarakat, dan bangsa yang sehat dan kuat. Maka, selain fokus pada olahraga fisik demi untuk kesehatan jantung, paru-paru, pembentukan otot, penghilangan lemak, tak kalah penting untuk juga fokus pada olahraga mental untuk menyehatkan pikiran, emosi, penerimaan diri, bersyukur, dan hidup lebih terarah untuk mencapai kesejahteraan psikologis.

Selamat menjalani hidup sehat, fisik dan mental …

 

Kontributor: Ratih Ramelan. Master bidang Psikolinguistik, penerjemah paruh waktu buku dan web novel, aktif menulis antologi. Kontak: ratihramelan@gmail.com