29 Januari 2024 10:00
Teknik Menulis yang Baik dan Benar Lanjutkan membacaSelayang Pandang Kota Nanning, Cina
Ni Hao …
Dibandingkan Beijing, Shanghai, atau Guangzhou, nama Nanning mungkin tidak begitu akrab di telinga kebanyakan masyarakat kita, padahal dia adalah nama sebuah kota besar, kota perdagangan, ibu kota Daerah Otonomi Suku Zhuang Quangxi, Cina, dengan penduduk sekitar 7 juta jiwa. Nanning terletak di sisi selatan daratan Cina, dekat dengan wilayah Asia Tenggara.
Nanning adalah kota tempat berlangsungnya salah satu agenda kerja sama Cina-ASEAN (organisasi negara Asia Tenggara), yaitu CAEXPO (China-ASEAN Expo), sebuah pameran budaya dan perdagangan China-ASEAN, yang rutin diadakan setiap tahun sejak 2004. Kedekatan geografis Nanning dengan beberapa negara anggota ASEAN (Laos, Thailand, Viet Nam) boleh jadi menjadi salah satu alasan kota ini dijadikan tuan rumah expo.
Pada September 2019, saya, bersama beberapa rekan kerja, berkunjung lagi ke kota ini dalam rangka tugas kantor untuk mengelola anjungan ASEAN Secretariat dan kegiatan lain pada expo tersebut. Ini adalah keterlibatan terakhir saya di CAEXPO karena, dengan melandanya Covid-19, expo 2020, 2021, dan 2022 dilangsungkan secara daring dan baru diadakan secara luring kembali pada 2023, saat saya sudah menyelesaikan masa tugas di organisasi regional ini.
CAEXPO diselenggarakan selama empat hari di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC) yang luasnya sekitar 100,000 m2 dengan tujuh zona, yaitu Zona A, B, C, D, E, F, G. Saya akrab dengan Zona B dan D. Zona B digunakan untuk menampung pavilion 10 negara ASEAN (Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand, dan Vietnam), Cina, ASEAN Secretariat, organisasi internasional lain, dan negara tertentu yang khusus diundang oleh tuan rumah, seperti India, Korea, Jepang, Tanzania, dan sebagainya. Setiap pavilion menampilkan keunikan tiap negara beserta kegiatan budaya dan perdagangannya.
Di sisi lain, Zona D digunakan sebagai area perdagangan. Sejumlah pengusaha UKM maupun pengusaha besar setiap negara mengisi lapak yang tersedia dengan berbagai komoditi seperti produk pertanian, makanan dan minuman, furnitur, tekstil, kerajinan tangan, dan banyak lagi. Pengusaha Indonesia juga tidak ketinggalan berpartisipasi dalam arena ini dengan mengedepankan komoditi khas seperti produk batik, kerajinan kulit, ukiran, makanan dan minuman. Negara seperti Cambodia, Laos, Thailand menampilkan kain sutra yang menjadi andalannya, Myanmar dengan batu-batuannya, Malaysia dengan produk pertanian, Philippines dengan makanan kering, Viet Nam dengan minuman dan tekstil, Brunei Darussalam dan Singapore menawarkan layanan jasa. Tentu saja tuan rumah Cina menggelar produk raksasa seperti elektronik, mesin, perbankan, telekomunikasi, dan lain sebagainya. Zona lainnya adalah aula besar untuk acara pembukaan yang diresmikan oleh pemimpin negara tuan rumah, ruang pertemuan resmi bilateral, multilateral, atau regional, kantor penyelenggara expo, dan berbagai fungsi lain.
Saya bertugas menyambut tamu, kebanyakan dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum, yang berkunjung ke anjungan ASEAN Secretariat, yang ingin tahu lebih jauh tentang organisasi regional ini dan bentuk kerja sama di dalamnya. Suasana di Zona B ini begitu hidup, meriah penuh dekorasi unik dan musik, dan ramai pengunjung yang menyaksikan atraksi seni di pavilion negara tertentu atau sekadar mengabadikan kehadiran mereka di setiap pavilion.

Untuk akomodasi, sebagian delegasi expo ditempatkan di LiYuan Resort yang dibangun di lahan berbukit yang luas berumput hijau, ditumbuhi banyak pepohonan rindang, dengan sungai dan danau kecil di dalamnya. Angsa hitam berenang anggun di danau yang tenang dan burung merak berjalan bebas di rerumputan. Jalan raya di luar area resort lebar dan mulus. Di seberang resort mengalir Sungai Yong yang lebar dan jernih dengan jembatan berarsitektur melengkung yang indah dan kokoh di atasnya – Nanning Bridge atau Ling-Tie Bridge yang menjadi kebanggaan warga setempat. Di sepanjang tepian sungai terbentang trotoar lebar dan bersih untuk berolahraga jalan kaki, joging atau bersepeda.
Sungguh, LiYuan Resort adalah kawasan yang asri, tenang dan nyaman, jauh dari keramaian, dan dilengkapi sistem keamanan yang ketat. Hal ini dapat dipahami karena delegasi yang tinggal di dalamnya adalah tamu negara. Tentu saja tuan rumah ingin memberikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan bagi tamunya.
Selain expo yang grande itu, Nanning juga menyimpan sisi menarik lainnya. Saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat yang saya kira cukup patut untuk dibagikan pada Anda.

Jumpa Mahasiswa Guangxi Arts University (GAU)
Salah satu kegiatan outreach yang kami lakukan beriringan dengan expo adalah berkunjung ke Guangxi Arts University (GAU), sebuah perguruan tinggi cukup bergengsi di Nanning yang mengkhususkan diri pada seni. Saat itu musim libur, tetapi sekitar 200 mahasiswa tetap hadir di aula pertemuan yang megah di tengah kampus untuk bertukar informasi dan berdiskusi tentang kerjasama regional bersama kami yang mewakili ASEAN. Meskipun ada kendala bahasa, diskusi tetap berjalan lancar dan seru. Mereka antusias, ramah, dan cukup ringan tangan membantu kami saat menyiapkan publikasi dan suvenir untuk dibagikan kepada peserta sebelum acara diskusi.
Kampus GAU luas, teduh, dan asri dengan sejumlah gedung kantor dan perkuliahan berdiri megah. Ada tujuh jurusan yang tersedia di lembaga pendidikan ini, yaitu Seni Rupa, Desain, Lukis, Musik, Tari, Sastra, dan Film, TV & Komunikasi, dengan bidang pengkhususan lain, dilengkapi fasilitas belajar seperti studio lukis, ruang piano, aula konser, aula latihan, ruang kelas multimedia, ruang komputer, laboratorium, studio musik, dengan pengajar yang mumpuni di bidangnya. Bila ingin memperdalam seni dari timur, institusi ini kiranya cukup pantas untuk Anda lirik dan pertimbangkan.
Selain berdiskusi, salah satu atraksi panggung yang disajikan adalah permainan gamelan yang dilakukan oleh mahasiswa setempat dan yang berasal dari negara lain. Ternyata, pengasuh grup karawitan ini adalah Kang Randi, seniman muda dari Bandung, alumni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI). Wah, ajib ya. Beliau bercerita bahwa awalnya dirinya diminta oleh pemerintah Cina untuk menangani pengadaan seperangkat alat musik gamelan Sunda untuk dijadikan koleksi museum di kota Nanning. Dengan kepiawaiannya memainkan gendang, suling, dan alat musik tradisional lain, akhirnya Kang Randi diminta untuk mengajar di departemen musik di GAU. Maka, sejak sekitar 2015, beliau resmi menjadi dosen musik gamelan di universitas tersebut.
Kabarnya, banyak mahasiswa Indonesia belajar di Nanning. Saya juga sempat bertemu tiga mahasiswa Indonesia yang belajar teknologi komputer di kota ini. Pada musim expo seperti ini, mereka berpartisipasi menjaga pavilion Indonesia di arena pameran sebagai relawan. Senangnya, jauh-jauh bertemu juga dengan orang setanah air. Selain itu, bahasa Indonesia menjadi subjek menarik yang dipelajari di sejumlah universitas dan banyak diminati oleh mahasiswa. Relawan yang menjaga anjungan kami adalah juga mahasiswa lokal jurusan Bahasa Indonesia. Mereka lebih lancar berbicara dalam bahasa Indonesia daripada dalam bahasa Inggris.

Three Streets Two Lanes (TSTL)
Tempat lain yang juga kami kunjungi adalah Three Streets Two Lanes (TSTL), daerah tujuan wisata yang populer di Nanning saat ini yang mengangkat budaya dan sejarah Cina dan menampilkan potret dua wajah Nanning, tua dan modern. Banyak berdiri bangunan berarsitektur antik, museum, deretan toko yang menjual berbagai benda seni klasik dan, tentu saja, restoran dan toko suvenir. Mengikuti namanya, area TSTL ini mencakup tiga jalan lama, Jalan Xingning, Minsheng, dan Jiefang, dan dua gang, Jinshi dan Yinshi. Setelah beberapa kali direnovasi, TSTL akhirnya tampil cantik dan modern sambil tetap mempertahankan warisan kultural dan sejarahnya. Mirip seperti kawasan Kota Tua di Jakarta Barat yang menjadi cagar budaya.

Lampion Merah
Hal yang selalu menarik perhatian saya di kota ini atau kota lain di Cina, adalah lampion merah, yang khas sekali. Di manapun di penjuru kota di Cina, selalu ada lampion, berukuran besar atau kecil, yang menghiasi rumah, gedung, jalan, mal, taman, dan berbagai tempat lain. Lampion menjadi benda yang sehari-hari tergantung di lingkungan sekitar mereka. Saya suka sekali melihatnya karena terlihat unik dan khas. Ternyata, makna filosofis yang dipercaya oleh masyarakatnya adalah bahwa lampion ini memberi jalan lancar bagi rezeki, juga sebagai pengusir kekuatan jahat yang disimbolkan dengan raksasa bernama Nian. Seorang teman yang lama menetap di Shanghai mengatakan bahwa memasang lampion di setiap rumah dipercaya dapat menghindarkan penghuninya dari ancaman kejahatan.
Kami juga berkunjung ke Nanning Garden Expo Park dengan light show-nya di malam hari –semacam festival lampion yang merupakan kemeriahan tradisional Cina dalam merayakan tahun baru Lunar. Bentuk lampion sangat beragam, bertema tahun baru Cina, budaya lokal, turisme, dan seni rakyat, dan terang benderang dengan warna-warni sorot lampu. Kami berjalan sejauh kurang lebih 3 km di taman itu, mulai dari pintu masuk hingga pintu keluar, menikmati beragam bentuk lampion di kiri dan kanan jalan.

Guangxi Culture and Art Center
Guangxi Culture and Art Center atau Pusat Budaya dan Seni Guangxi adalah bangunan teater sangat megah yang berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan berbagai macam program musikal dan budaya. Bangunannya bergaya arsitektural modern dan sophisticated, sangat pas dengan fungsinya sebagai pusat kegiatan seni budaya. Sayangnya, saat saya berada di sana, gedung ini masih belum buka, jadi hanya bisa berfoto di halamannya.

Theme Park Fantawild Asian Legend
Ini semacam wonderland! Mengikuti expo yang sudah rutin diadakan setiap tahun, pemerintah Cina menyiapkan Fantawild Asian Legend ini sebagai wujud persahabatan dan kerja sama Cina dan ASEAN yang sudah berlangsung lebih dari 25 tahun. Taman tematik ini berisi wahana besar yang mempresentasikan pemandangan alam, sejarah dan adat istiadat 10 negara ASEAN. Jadi, kita serasa melancong keliling Asia Tenggara hanya dalam satu hari di taman itu.
Selain wahana, terdapat juga gedung pertemuan dan gedung pertunjukkan. Delegasi expo diundang ke sebuah teater di taman ini oleh komite penyelenggara di malam hari untuk menyaksikan film promosional kerja sama Cina-ASEAN. Dibekali dengan kacamata 3D, kami menonton dan seolah larut menjadi bagian film itu sendiri. Seru sekali. Kami juga diajak menyaksikan pertunjukan yang merupakan perpaduan seni dan teknologi –dengan tarian tradisional di panggung yang ditimpali oleh teknologi permainan lampu, ornamen, dan hiasan lain, yang begitu harmonis. Sungguh grande …
Sayangnya, karena waktu terbatas dan di malam hari pula, kami tidak sempat mengunjungi pavilion masing-masing negara ASEAN. Hanya sempat menangkap ada candi besar, tentu saja replika, di pavilion Cambodia.
.jpg)
Nanning cukup menarik untuk dikunjungi sebagai tempat tujuan wisata dan bisnis, tentu saja. Beri tanda pada tabel rencana Anda …
*Foto: koleksi pribadi