Menu

Aku Capek, tapi Harus Kuat: Menenangkan Jiwa di Saat Hidup Terasa Berat

Penulis : Rochma Yulika & Umar Hidayat
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : x + 49 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 75 gram

Aku Capek, Tapi Harus Kuat: Menenangkan Jiwa di Saat Hidup Terasa Berat adalah buku reflektif yang menemani pembaca melewati masa-masa lelah yang sering tak terucap. Buku ini lahir dari realitas banyak orang yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi diam-diam berjuang menahan letih, kecewa, dan luka di dalam hati.

Buku ini mengajak pembaca untuk mengakui kelelahan tanpa rasa bersalah. Bab demi bab menggambarkan pergulatan batin ketika harus terus terlihat kuat, ketika doa terasa hampa, dan saat menjadi sandaran bagi banyak orang justru membuat diri sendiri rapuh. Dari pengakuan lelah itu, pembaca diajak perlahan menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk hidup dengan cara-cara sederhana: diam sejenak, menarik napas, menulis perasaan, dan mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Buku ini juga menekankan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan dengan Allah. Doa, zikir, dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam keseharian menjadi jalan pulang bagi jiwa yang letih. Di bagian akhir, pembaca diajak menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah, menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendirian, serta membangun refleksi harian agar hati tetap tenang di setiap langkah kehidupan.

Ditutup dengan epilog yang hangat, Aku Capek, Tapi Harus Kuat menjadi pelukan lembut bagi siapa pun yang masih bertahan hingga hari ini. Buku ini bukan tentang menjadi kuat tanpa henti, melainkan tentang berani lelah, pulang ke hati, dan menemukan tenang bersama Allah.

Stok Kosong

Aku Capek, tapi Harus Kuat: Menenangkan Jiwa di Saat Hidup Terasa Berat

Penulis : Rochma Yulika & Umar Hidayat
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : x + 49 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 75 gram

Aku Capek, Tapi Harus Kuat: Menenangkan Jiwa di Saat Hidup Terasa Berat adalah buku reflektif yang menemani pembaca melewati masa-masa lelah yang sering tak terucap. Buku ini lahir dari realitas banyak orang yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi diam-diam berjuang menahan letih, kecewa, dan luka di dalam hati.

Buku ini mengajak pembaca untuk mengakui kelelahan tanpa rasa bersalah. Bab demi bab menggambarkan pergulatan batin ketika harus terus terlihat kuat, ketika doa terasa hampa, dan saat menjadi sandaran bagi banyak orang justru membuat diri sendiri rapuh. Dari pengakuan lelah itu, pembaca diajak perlahan menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk hidup dengan cara-cara sederhana: diam sejenak, menarik napas, menulis perasaan, dan mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Buku ini juga menekankan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan dengan Allah. Doa, zikir, dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam keseharian menjadi jalan pulang bagi jiwa yang letih. Di bagian akhir, pembaca diajak menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah, menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendirian, serta membangun refleksi harian agar hati tetap tenang di setiap langkah kehidupan.

Ditutup dengan epilog yang hangat, Aku Capek, Tapi Harus Kuat menjadi pelukan lembut bagi siapa pun yang masih bertahan hingga hari ini. Buku ini bukan tentang menjadi kuat tanpa henti, melainkan tentang berani lelah, pulang ke hati, dan menemukan tenang bersama Allah.

Stok Kosong

Buku Rekomendasi