Hidup di Tiga Zaman: Riwayat Perjuangan KH. Muhammad Abbas
| Penulis | : | Ahmad Faiz Rofi’i |
| Ukuran | : | 14.5 x 20.5 cm |
| Tebal | : | xxiv + 217 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-474-4 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 290 gram |
Buku ini menguak narasi jejak sejarah perjuangan KH. Muhammad Abbas Buntet, Cirebon. Sosok ulama-kiai sederhana dengan karismatik, keteduhan, dan kealiman yang dimilikinya adalah sosok yang telah berkontribusi besar tidak hanya bagi perjuangan daerah, tempat asalnya yakni Cirebon, juga dapat dikatakan sebagai pejuang nasional yang telah mengalami fase sulit dan hidup pada tiga zaman yang berbeda; era kolonialisme Belanda atau masa pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan.
Adapun rumah besar yang menjadi wadah perjuangan KH. Muhammad Abbas adalah pesantren dan Nahdlatul Ulama. Di mana melalui dua tempat itulah, wawasan intelektualnya terbentuk, spirit perjuangannya lewat semangat "Nahdlah" tidak pernah runtuh, bahkan dikenal sebagai seorang organisatoris, sehingga tidak saja mencatatkan dirinya sebagai salah satu pendiri, generasi awal penggerak NU cabang Cirebon, juga sebagai tokoh pejuang kemerdekaan melalui gerbong pasukan Hizbullah yang ia bentuk di Cirebon hingga terlibat dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Buku ini adalah lanjutan dari karya para sarjana, ahli, penulis yang lebih dahulu terbit. Sementara buku ini tidak kalah pentingnya karena menggunakan sumber sejarah yang relevan terutama keterlibatan KH. Muhammad Abbas dalam panggung sejarah NU. Sebab sejarah itu antara ada, tiada, dan tidak mengada-ada. Oleh karena itu, penulisan sejarah dalam buku ini bukan saja secara deskriptif tapi juga analitis.
Buku ini cocok dibaca untuk masyarakat umum. Terlepas dari segala kekurangannya, semoga masih ada manfaat yang bisa diambil dalam buku ini, khususnya dalam membangun pengetahuan khazanah lokal ke-Islaman pada awal abad ke-20 dengan kehadiran ulama-kiai di tengah-tengah masyarakat, yang peran dan kontribusinya wajib diperbincangkan dalam lembaran sejarah umat manusia untuk Islam dan Indonesia.
Stok Kosong
Hidup di Tiga Zaman: Riwayat Perjuangan KH. Muhammad Abbas
| Penulis | : | Ahmad Faiz Rofi’i |
| Ukuran | : | 14.5 x 20.5 cm |
| Tebal | : | xxiv + 217 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-474-4 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 290 gram |
Buku ini menguak narasi jejak sejarah perjuangan KH. Muhammad Abbas Buntet, Cirebon. Sosok ulama-kiai sederhana dengan karismatik, keteduhan, dan kealiman yang dimilikinya adalah sosok yang telah berkontribusi besar tidak hanya bagi perjuangan daerah, tempat asalnya yakni Cirebon, juga dapat dikatakan sebagai pejuang nasional yang telah mengalami fase sulit dan hidup pada tiga zaman yang berbeda; era kolonialisme Belanda atau masa pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan.
Adapun rumah besar yang menjadi wadah perjuangan KH. Muhammad Abbas adalah pesantren dan Nahdlatul Ulama. Di mana melalui dua tempat itulah, wawasan intelektualnya terbentuk, spirit perjuangannya lewat semangat "Nahdlah" tidak pernah runtuh, bahkan dikenal sebagai seorang organisatoris, sehingga tidak saja mencatatkan dirinya sebagai salah satu pendiri, generasi awal penggerak NU cabang Cirebon, juga sebagai tokoh pejuang kemerdekaan melalui gerbong pasukan Hizbullah yang ia bentuk di Cirebon hingga terlibat dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Buku ini adalah lanjutan dari karya para sarjana, ahli, penulis yang lebih dahulu terbit. Sementara buku ini tidak kalah pentingnya karena menggunakan sumber sejarah yang relevan terutama keterlibatan KH. Muhammad Abbas dalam panggung sejarah NU. Sebab sejarah itu antara ada, tiada, dan tidak mengada-ada. Oleh karena itu, penulisan sejarah dalam buku ini bukan saja secara deskriptif tapi juga analitis.
Buku ini cocok dibaca untuk masyarakat umum. Terlepas dari segala kekurangannya, semoga masih ada manfaat yang bisa diambil dalam buku ini, khususnya dalam membangun pengetahuan khazanah lokal ke-Islaman pada awal abad ke-20 dengan kehadiran ulama-kiai di tengah-tengah masyarakat, yang peran dan kontribusinya wajib diperbincangkan dalam lembaran sejarah umat manusia untuk Islam dan Indonesia.
Stok Kosong