Meniti Jalan Surga: Risalah Untuk Sahabat
| Penulis | : | Muhammad Muhlis |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | xvi + 79 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-445-4 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
MANUSIA dengan berbagai macam peran yang dilakoni dalam menjalani kehidupan di dunia tiada lain untuk mencari kebahagiaan. Karena di balik kebahagiaan tersimpan ketenangan, ketentraman, kenyamanan beserta kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Lalu, apakah kebahagiaan itu? Mengutip pendapat Buya Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern”, bahagia itu tergantung pandangan manusia itu sendiri, yang tidak selamanya sama antara yang satu dengan yang lainnya. Mengutip Imam Ghazali, Buya Hamka berpendapat bahwa, “Bahagia dan kelezatan yang sejati ialah bilamana dapat mengingat Allah.”
Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita merasakan nikmat kesenangan dan kelezatannya. Dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masingmasing, maka kelezatan ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain di tubuh manusia. Adapun kelezatan hati ialah teguh ma'rifat kepada Allah karena hati itu dijadikan untuk mengingat Tuhan.” Sebuah syair menjelaskan, “Aku tidaklah berpendapat bahwa kebahagiaan itu dari harta yang tertumpuk, namun hakikat kebahagiaan yang sejati adalah ketika ketakwaan terhujam dalam hati itulah sebenarnya kebahagiaan.”
Stok Kosong
Meniti Jalan Surga: Risalah Untuk Sahabat
| Penulis | : | Muhammad Muhlis |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | xvi + 79 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-445-4 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
MANUSIA dengan berbagai macam peran yang dilakoni dalam menjalani kehidupan di dunia tiada lain untuk mencari kebahagiaan. Karena di balik kebahagiaan tersimpan ketenangan, ketentraman, kenyamanan beserta kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Lalu, apakah kebahagiaan itu? Mengutip pendapat Buya Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern”, bahagia itu tergantung pandangan manusia itu sendiri, yang tidak selamanya sama antara yang satu dengan yang lainnya. Mengutip Imam Ghazali, Buya Hamka berpendapat bahwa, “Bahagia dan kelezatan yang sejati ialah bilamana dapat mengingat Allah.”
Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita merasakan nikmat kesenangan dan kelezatannya. Dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masingmasing, maka kelezatan ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain di tubuh manusia. Adapun kelezatan hati ialah teguh ma'rifat kepada Allah karena hati itu dijadikan untuk mengingat Tuhan.” Sebuah syair menjelaskan, “Aku tidaklah berpendapat bahwa kebahagiaan itu dari harta yang tertumpuk, namun hakikat kebahagiaan yang sejati adalah ketika ketakwaan terhujam dalam hati itulah sebenarnya kebahagiaan.”
Stok Kosong