Ayat Pedang versus Ayat-Ayat Damai: Menafsir Ulang Teori Naskh Dalam Al-Qur’ân
| Penulis | : | Wardani |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xvi + 546 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-7707-56-1 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 650 gr |
Buku ini dirancang dan ditulis dari kesadaran penulis akan pentingnya sikap kita terhadap turâts dan pandangan kita ke depan akan pentingnya hadâtsah. Dengan kehormatan yang mendalam atas perjuangan gigih para penulis terdahulu, turâth mereka diletakkan di atas mizan untuk dinilai untuk melihat masa depan, karena dengan beginilah sebuah kajian kritis-analitis akan memiliki artinya. Kritik diperlukan justru untuk menatap masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, buku ini semaksimal mungkin berupaya memenuhi tantangan seorang tokoh ulama Mâlikî, Abû Bakr ibn al-’Arabî (w. 543 H), yang namanya dalam disertasi ini diapresiasi sekaligus dikritik: “tidak sepatutnya bagi orang yang ingin menulis mengabaikan salah satu dari dua hal; adakala ia harus menciptakan makna baru atau menciptakan bangunan keilmuan baru. Jika tidak, hal itu hanya mencoret-coret kertas dan merias dengan riasan pemborosan (lâ yanbaghî li man yushannifu an ya’dula ‘an ahad al-amrayn; immâ an yakhtari`a ma’nan aw yabtadi’a mabnan, wa illâ kâna dzâlika taswîd al-waraq wa tahliyah bi hilyat al-saraf)”. Dengan ungkapan lain, ada dua hal yang dituntut, yaitu interpretasi baru (ma’nâ) atau rekonstruksi bangunan keilmuan (mabnâ). Semoga buku ini bisa menyahuti setidaknya sebagian kecil dari dua tuntutan ini.
Ayat Pedang versus Ayat-Ayat Damai: Menafsir Ulang Teori Naskh Dalam Al-Qur’ân
| Penulis | : | Wardani |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xvi + 546 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-7707-56-1 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 650 gr |
Buku ini dirancang dan ditulis dari kesadaran penulis akan pentingnya sikap kita terhadap turâts dan pandangan kita ke depan akan pentingnya hadâtsah. Dengan kehormatan yang mendalam atas perjuangan gigih para penulis terdahulu, turâth mereka diletakkan di atas mizan untuk dinilai untuk melihat masa depan, karena dengan beginilah sebuah kajian kritis-analitis akan memiliki artinya. Kritik diperlukan justru untuk menatap masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, buku ini semaksimal mungkin berupaya memenuhi tantangan seorang tokoh ulama Mâlikî, Abû Bakr ibn al-’Arabî (w. 543 H), yang namanya dalam disertasi ini diapresiasi sekaligus dikritik: “tidak sepatutnya bagi orang yang ingin menulis mengabaikan salah satu dari dua hal; adakala ia harus menciptakan makna baru atau menciptakan bangunan keilmuan baru. Jika tidak, hal itu hanya mencoret-coret kertas dan merias dengan riasan pemborosan (lâ yanbaghî li man yushannifu an ya’dula ‘an ahad al-amrayn; immâ an yakhtari`a ma’nan aw yabtadi’a mabnan, wa illâ kâna dzâlika taswîd al-waraq wa tahliyah bi hilyat al-saraf)”. Dengan ungkapan lain, ada dua hal yang dituntut, yaitu interpretasi baru (ma’nâ) atau rekonstruksi bangunan keilmuan (mabnâ). Semoga buku ini bisa menyahuti setidaknya sebagian kecil dari dua tuntutan ini.