Dialektika Manuskrip Al-qur’an Dan Masyarakat Muslim
| Penulis | : | Yusri Hamzani |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | x + 187 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-336-5 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Buku ini mengajak pembacanya untuk melihat penjelasan tentang dialektika manuskrip Al-Qur'an dengan masyarakat Muslim dari masa klasik Islam hingga masa modern. Pada masa klasik Islam, manuskrip Al-Qur'an difungsikan sebagai alat pelengkap otoritas verbal (hapalan). Realitas ini dibuktikan dengan belum ditentukannya formulasi penulisan Al-Qur'an yang baku. Tidak mengherankan apabila antara satu sahabat dengan sahabat Nabi yang lain, memiliki tulisan Al-Qur'an yang bervariasi. Setelah wilayah kekuasaan Islam semakin meluas, maka manuskrip Al-Qur'an mulai difungsikan sebagai media utama dalam proses belajar-mengajar Al-Qur'an. Pada masa ini, manuskrip Al-Qur'an mulai mengalami proses penyempurnaan tulisan secara teknis untuk mempermudah pembaca non-arab dalam mempelajarinya. Pada tahapan dialektika berikutnya, pada masa modern, dimana industri percetakan mushaf telah menjamur, manuskrip Al-Qur'an menjelma menjadi benda antik yang dipajang di museum, masjid dan perpustakaan. Selain itu, manuskrip Al-Qur'an juga dijadikan sebagai atribut adat yang tidak boleh disentuh dan dibaca kecuali oleh keturunan dari penulis manuskrip itu sendiri. Bahkan di beberapa tempat di Indonesia, manuskrip Al-Qur'an dijadikan sebagai penanda strata sosial. Pada tahapan dialektika inilah, manuskrip Al-Qur'an menjadi eksklusif dan paradox dengan makna harafiahnya, bacaan!
Stok Kosong
Dialektika Manuskrip Al-qur’an Dan Masyarakat Muslim
| Penulis | : | Yusri Hamzani |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | x + 187 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-336-5 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Buku ini mengajak pembacanya untuk melihat penjelasan tentang dialektika manuskrip Al-Qur'an dengan masyarakat Muslim dari masa klasik Islam hingga masa modern. Pada masa klasik Islam, manuskrip Al-Qur'an difungsikan sebagai alat pelengkap otoritas verbal (hapalan). Realitas ini dibuktikan dengan belum ditentukannya formulasi penulisan Al-Qur'an yang baku. Tidak mengherankan apabila antara satu sahabat dengan sahabat Nabi yang lain, memiliki tulisan Al-Qur'an yang bervariasi. Setelah wilayah kekuasaan Islam semakin meluas, maka manuskrip Al-Qur'an mulai difungsikan sebagai media utama dalam proses belajar-mengajar Al-Qur'an. Pada masa ini, manuskrip Al-Qur'an mulai mengalami proses penyempurnaan tulisan secara teknis untuk mempermudah pembaca non-arab dalam mempelajarinya. Pada tahapan dialektika berikutnya, pada masa modern, dimana industri percetakan mushaf telah menjamur, manuskrip Al-Qur'an menjelma menjadi benda antik yang dipajang di museum, masjid dan perpustakaan. Selain itu, manuskrip Al-Qur'an juga dijadikan sebagai atribut adat yang tidak boleh disentuh dan dibaca kecuali oleh keturunan dari penulis manuskrip itu sendiri. Bahkan di beberapa tempat di Indonesia, manuskrip Al-Qur'an dijadikan sebagai penanda strata sosial. Pada tahapan dialektika inilah, manuskrip Al-Qur'an menjadi eksklusif dan paradox dengan makna harafiahnya, bacaan!
Stok Kosong