Behind an Angry Daughter
| Penulis | : | Athalia Widya |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | vi + 441 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 500 gram |
Mengapa seorang anak perempuan bisa tumbuh menjadi begitu mudah marah?
Kita sering hanya melihat kemarahannya saja. Kita menyebutnya keras kepala, sensitif, sulit diatur, terlalu emosional, atau bahkan tidak tahu berterima kasih. Kita melihat bentakannya, diamnya, sikap defensifnya, dan ledakan emosinya.
Tetapi, pernahkah kita bertanya apa yang terjadi sebelum semua itu?
Di balik seorang anak perempuan yang pemarah, bisa jadi ada seorang anak kecil yang pernah merasa tidak didengar. Ada kebutuhan untuk dicintai yang tidak terpenuhi, ketakutan ditinggalkan, rumah yang tidak terasa aman, hubungan dengan orang tua yang penuh jarak, atau luka-luka kecil yang terus menumpuk hingga akhirnya menemukan jalan keluar melalui kemarahan.
Behind an Angry Daughter mengajak pembaca melihat kemarahan dari sisi yang berbeda: bukan sekadar sebagai perilaku yang harus dihentikan, tetapi sebagai bahasa dari emosi yang mungkin selama bertahun-tahun tidak mampu diungkapkan.
Melalui pembahasan tentang pengabaian emosional, hubungan anak dan orang tua, attachment, konflik keluarga, perceraian, pernikahan kembali orang tua, inner child, regulasi emosi, hingga proses menerima dan berdamai dengan masa lalu, buku ini mengajak kita memahami apa yang mungkin tersembunyi di balik kemarahan seorang anak perempuan.
Buku ini tidak sedang mencari siapa yang salah, tapi tentang memahami sebelum menghakimi. Karena mungkin, sebelum seorang anak perempuan belajar menjadi pemarah, ia adalah seorang anak kecil yang hanya ingin merasa aman, dicintai, dan didengar.
Stok Kosong
Behind an Angry Daughter
| Penulis | : | Athalia Widya |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | vi + 441 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 500 gram |
Mengapa seorang anak perempuan bisa tumbuh menjadi begitu mudah marah?
Kita sering hanya melihat kemarahannya saja. Kita menyebutnya keras kepala, sensitif, sulit diatur, terlalu emosional, atau bahkan tidak tahu berterima kasih. Kita melihat bentakannya, diamnya, sikap defensifnya, dan ledakan emosinya.
Tetapi, pernahkah kita bertanya apa yang terjadi sebelum semua itu?
Di balik seorang anak perempuan yang pemarah, bisa jadi ada seorang anak kecil yang pernah merasa tidak didengar. Ada kebutuhan untuk dicintai yang tidak terpenuhi, ketakutan ditinggalkan, rumah yang tidak terasa aman, hubungan dengan orang tua yang penuh jarak, atau luka-luka kecil yang terus menumpuk hingga akhirnya menemukan jalan keluar melalui kemarahan.
Behind an Angry Daughter mengajak pembaca melihat kemarahan dari sisi yang berbeda: bukan sekadar sebagai perilaku yang harus dihentikan, tetapi sebagai bahasa dari emosi yang mungkin selama bertahun-tahun tidak mampu diungkapkan.
Melalui pembahasan tentang pengabaian emosional, hubungan anak dan orang tua, attachment, konflik keluarga, perceraian, pernikahan kembali orang tua, inner child, regulasi emosi, hingga proses menerima dan berdamai dengan masa lalu, buku ini mengajak kita memahami apa yang mungkin tersembunyi di balik kemarahan seorang anak perempuan.
Buku ini tidak sedang mencari siapa yang salah, tapi tentang memahami sebelum menghakimi. Karena mungkin, sebelum seorang anak perempuan belajar menjadi pemarah, ia adalah seorang anak kecil yang hanya ingin merasa aman, dicintai, dan didengar.
Stok Kosong