Menu

Belajar Tasawuf dari Ulama Aceh ke Budaya Nusantara

Penulis : Zulfikar Riza Hariz Pohan, Arizul Suwar, dkk.
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : xii + 172 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 270 gram

Masa depan adalah wilayah yang belum pernah diinjak siapa pun. Namun, masa depan bukanlah ruang yang sepenuhnya gelap. Ia dapat diterangi melalui sejarah. Bukan sejarah yang membeku di museum atau sekadar menjadi nostalgia, melainkan sejarah yang hidup sebagai sumber kesadaran, emansipasi, dan pembentuk peradaban.

Buku Belajar Tasawuf dari Ulama Aceh ke Budaya Nusantara mengajak pembaca menelusuri kembali jejak intelektual dan spiritual Islam Nusantara melalui pemikiran para ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Abdurrauf as-Singkily, Nuruddin ar-Raniry, Syekh Yusuf al-Makassari, serta jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat intelektual Islam dunia. Di tangan mereka, tasawuf tidak hanya menjadi jalan penyucian jiwa, tetapi juga melahirkan pandangan hidup yang menghargai kemanusiaan, membangun ilmu pengetahuan, memperkuat pendidikan, dan membentuk tata sosial yang lebih adil.

Melalui kajian sejarah, manuskrip, pendidikan Islam, pesantren, politik, hingga refleksi atas krisis sosial masa kini, buku ini menunjukkan bahwa kejayaan Islam di Nusantara lahir dari perjuangan membangun tradisi ilmu, dialog kebudayaan, dan keterbukaan berpikir. Konsep tauhid wujudiyah yang berkembang di Nusantara menjadi jembatan antara ajaran Islam dengan khazanah budaya lokal, sehingga melahirkan corak keberagamaan yang damai, inklusif, dan berakar kuat pada masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan zaman; polarisasi, kekerasan, krisis moral, dan pudarnya ingatan sejarah, buku ini mengajak pembaca melihat kembali warisan intelektual para ulama Nusantara sebagai inspirasi untuk membangun masa depan. Sebab sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan kompas yang menuntun arah peradaban. Dengan memadukan perspektif sejarah, tasawuf, pendidikan, dan studi kebudayaan, buku ini menjadi ikhtiar untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa spiritualitas sejati selalu berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan, keadilan sosial, dan kemajuan bangsa.

Stok Kosong

Belajar Tasawuf dari Ulama Aceh ke Budaya Nusantara

Penulis : Zulfikar Riza Hariz Pohan, Arizul Suwar, dkk.
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : xii + 172 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 270 gram

Masa depan adalah wilayah yang belum pernah diinjak siapa pun. Namun, masa depan bukanlah ruang yang sepenuhnya gelap. Ia dapat diterangi melalui sejarah. Bukan sejarah yang membeku di museum atau sekadar menjadi nostalgia, melainkan sejarah yang hidup sebagai sumber kesadaran, emansipasi, dan pembentuk peradaban.

Buku Belajar Tasawuf dari Ulama Aceh ke Budaya Nusantara mengajak pembaca menelusuri kembali jejak intelektual dan spiritual Islam Nusantara melalui pemikiran para ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Abdurrauf as-Singkily, Nuruddin ar-Raniry, Syekh Yusuf al-Makassari, serta jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat intelektual Islam dunia. Di tangan mereka, tasawuf tidak hanya menjadi jalan penyucian jiwa, tetapi juga melahirkan pandangan hidup yang menghargai kemanusiaan, membangun ilmu pengetahuan, memperkuat pendidikan, dan membentuk tata sosial yang lebih adil.

Melalui kajian sejarah, manuskrip, pendidikan Islam, pesantren, politik, hingga refleksi atas krisis sosial masa kini, buku ini menunjukkan bahwa kejayaan Islam di Nusantara lahir dari perjuangan membangun tradisi ilmu, dialog kebudayaan, dan keterbukaan berpikir. Konsep tauhid wujudiyah yang berkembang di Nusantara menjadi jembatan antara ajaran Islam dengan khazanah budaya lokal, sehingga melahirkan corak keberagamaan yang damai, inklusif, dan berakar kuat pada masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan zaman; polarisasi, kekerasan, krisis moral, dan pudarnya ingatan sejarah, buku ini mengajak pembaca melihat kembali warisan intelektual para ulama Nusantara sebagai inspirasi untuk membangun masa depan. Sebab sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan kompas yang menuntun arah peradaban. Dengan memadukan perspektif sejarah, tasawuf, pendidikan, dan studi kebudayaan, buku ini menjadi ikhtiar untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa spiritualitas sejati selalu berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan, keadilan sosial, dan kemajuan bangsa.

Stok Kosong