Dari Faqih ke Neo-Sufisme
| Penulis | : | Nurdin |
| Ukuran | : | 18 x 25 cm |
| Tebal | : | x + 240 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-400-3 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 450 gram |
Selama ini, Ahmad Khatib dipersepsikan sebagai seorang yang anti dengan tarekat sufi. Namun, ia juga bisa disebut juga sebagai apa yang diistilahkan Fazlur Rahman sebagai ulama neo-sufisme yang ciri utamanya adalah pemurnian dan aktivisme. Menariknya, sebagai faqih, Ahmad Khatib sangat kritis pada praktik-praktik mistik yang tidak memiliki landasan yang kuat. Sebagaimana Ibn Taimiyah, ia hanya menerima yang sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah. Ia juga menerima yang benar-benar terhormat dan sifat Tuhan tidak dihubungkan dengan Nabi atau para wali. Buku ini bermanfaat sebagai bagian dari kajian yang menambah khazanah intelektual ulama Nusantara dan hubungan dengan Haramayn. Penulisnya adalah staff pengajar pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi.
Stok Kosong
Dari Faqih ke Neo-Sufisme
| Penulis | : | Nurdin |
| Ukuran | : | 18 x 25 cm |
| Tebal | : | x + 240 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-400-3 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 450 gram |
Selama ini, Ahmad Khatib dipersepsikan sebagai seorang yang anti dengan tarekat sufi. Namun, ia juga bisa disebut juga sebagai apa yang diistilahkan Fazlur Rahman sebagai ulama neo-sufisme yang ciri utamanya adalah pemurnian dan aktivisme. Menariknya, sebagai faqih, Ahmad Khatib sangat kritis pada praktik-praktik mistik yang tidak memiliki landasan yang kuat. Sebagaimana Ibn Taimiyah, ia hanya menerima yang sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah. Ia juga menerima yang benar-benar terhormat dan sifat Tuhan tidak dihubungkan dengan Nabi atau para wali. Buku ini bermanfaat sebagai bagian dari kajian yang menambah khazanah intelektual ulama Nusantara dan hubungan dengan Haramayn. Penulisnya adalah staff pengajar pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi.
Stok Kosong