Dialektika Wahyu dan Riwayat Analisis Metodologis Hadis-Hadis Problematis
| Penulis | : | Muhammad Tahir A |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | viii + 270 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 310 gram |
Buku ini lahir dari pergulatan intelektual penulis dalam menelaah problem kritik hadis, khususnya terkait ketegangan antara otoritas sanad dan problematika matan. Penulis melihat adanya persoalan epistemologis yang serius dalam studi hadis kontemporer. Di satu sisi, terdapat penghormatan yang sangat kuat terhadap validitas sanad, terutama riwayat dalam Sahihain, namun di sisi lain muncul kesulitan untuk melakukan pengujian kritis terhadap kandungan makna hadis itu sendiri.
Melalui buku ini, penulis mengajukan pentingnya penguatan kritik matan (naqd al-matan) sebagai bagian integral dalam metodologi studi hadis. Selama ini, kritik hadis cenderung lebih didominasi oleh kritik sanad (naqd al-sanad), sehingga banyak riwayat yang secara formal dinilai sahih tetapi menyimpan problem substansial, baik secara rasional, historis, maupun teologis. Beberapa isu yang dibahas meliputi narasi tentang Nabi saw. terkena sihir, asal-usul puasa Asyura, status keimanan Abu Thalib ra., hingga kontroversi usia pernikahan Aisyah ra.
Melalui buku ini penulis mengajak pembaca untuk melihat kritik matan bukan sebagai upaya meruntuhkan otoritas hadis, melainkan sebagai ikhtiar ilmiah untuk menemukan hakikat kesahihan secara lebih utuh dan objektif.
Sejalan dengan semangat pemikiran Muhammad al-Ghazali dalam al-Sunnah al-Nabawiyyah baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadith, buku ini menegaskan bahwa keberanian mengkritisi riwayat bukanlah bentuk pelemahan terhadap agama, tetapi justru usaha menjaga kemurnian ajaran Islam dari pemahaman yang problematik. Sebab, kesahihan yang lahir melalui proses kritik ilmiah jauh lebih kokoh dibanding penerimaan yang menyisakan keraguan intelektual.
Stok Kosong
Dialektika Wahyu dan Riwayat Analisis Metodologis Hadis-Hadis Problematis
| Penulis | : | Muhammad Tahir A |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | viii + 270 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 310 gram |
Buku ini lahir dari pergulatan intelektual penulis dalam menelaah problem kritik hadis, khususnya terkait ketegangan antara otoritas sanad dan problematika matan. Penulis melihat adanya persoalan epistemologis yang serius dalam studi hadis kontemporer. Di satu sisi, terdapat penghormatan yang sangat kuat terhadap validitas sanad, terutama riwayat dalam Sahihain, namun di sisi lain muncul kesulitan untuk melakukan pengujian kritis terhadap kandungan makna hadis itu sendiri.
Melalui buku ini, penulis mengajukan pentingnya penguatan kritik matan (naqd al-matan) sebagai bagian integral dalam metodologi studi hadis. Selama ini, kritik hadis cenderung lebih didominasi oleh kritik sanad (naqd al-sanad), sehingga banyak riwayat yang secara formal dinilai sahih tetapi menyimpan problem substansial, baik secara rasional, historis, maupun teologis. Beberapa isu yang dibahas meliputi narasi tentang Nabi saw. terkena sihir, asal-usul puasa Asyura, status keimanan Abu Thalib ra., hingga kontroversi usia pernikahan Aisyah ra.
Melalui buku ini penulis mengajak pembaca untuk melihat kritik matan bukan sebagai upaya meruntuhkan otoritas hadis, melainkan sebagai ikhtiar ilmiah untuk menemukan hakikat kesahihan secara lebih utuh dan objektif.
Sejalan dengan semangat pemikiran Muhammad al-Ghazali dalam al-Sunnah al-Nabawiyyah baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadith, buku ini menegaskan bahwa keberanian mengkritisi riwayat bukanlah bentuk pelemahan terhadap agama, tetapi justru usaha menjaga kemurnian ajaran Islam dari pemahaman yang problematik. Sebab, kesahihan yang lahir melalui proses kritik ilmiah jauh lebih kokoh dibanding penerimaan yang menyisakan keraguan intelektual.
Stok Kosong