Ekoteologi dalam Perspektif Agama dan Budaya
| Penulis | : | Dr. Syafieh, M.Fil.I. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xii + 257 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 300 gram |
Krisis lingkungan hidup merupakan salah satu persoalan terbesar yang dihadapi manusia dewasa ini. Perubahan iklim, deforestasi, pencemaran, degradasi ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak semata-mata berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga berakar pada krisis moral, spiritual, sosial, dan peradaban. Karena itu, penyelesaian krisis lingkungan membutuhkan paradigma yang mampu membangun kembali hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.
Buku ini hadir, mengkaji ekoteologi sebagai perspektif yang menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan etis dan spiritual dalam membangun kesadaran ekologis. Dalam perspektif Islam, manusia dipahami sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki amanah untuk memelihara keseimbangan alam, menghindari kerusakan (fasad fi al-ard), serta memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga bagian dari manifestasi keimanan dan tanggung jawab manusia kepada Allah Swt.
Menariknya, pembahasan dalam buku ini tidak berhenti pada perspektif keagamaan. Nilai-nilai agama didialogkan dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat yang sejak lama mengandung prinsip-prinsip penghormatan, keseimbangan, dan keharmonisan dengan alam. Integrasi antara agama dan budaya tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun etika lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan, keadilan antargenerasi, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.
Buku ini mempertemukan kajian teologi, studi Islam, etika lingkungan, antropologi budaya, serta gagasan kontemporer tentang pembangunan berkelanjutan. Perspektif tersebut menjadikan ekoteologi bukan sekadar wacana akademik, melainkan tawaran konseptual untuk membangun kesadaran dan perilaku ekologis yang berakar pada nilai-nilai spiritual sekaligus kearifan budaya.
Ekoteologi dalam Perspektif Agama dan Budaya ditujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, akademisi, pemerhati lingkungan, tokoh agama, pembuat kebijakan, serta masyarakat luas yang ingin memahami persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih utuh. Lebih dari sekadar referensi ilmiah, buku ini mengajak pembaca menyadari bahwa menjaga alam merupakan amanah keagamaan, tanggung jawab kemanusiaan, dan warisan moral bagi generasi mendatang. Buku ini menawarkan sebuah refleksi penting: krisis ekologis tidak cukup diatasi hanya dengan teknologi dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang, etika, dan kesadaran spiritual manusia dalam memperlakukan alam. Melalui dialog antara agama dan budaya, ekoteologi diharapkan dapat menjadi salah satu pijakan menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan seluruh makhluk.
Stok Kosong
Ekoteologi dalam Perspektif Agama dan Budaya
| Penulis | : | Dr. Syafieh, M.Fil.I. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xii + 257 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 300 gram |
Krisis lingkungan hidup merupakan salah satu persoalan terbesar yang dihadapi manusia dewasa ini. Perubahan iklim, deforestasi, pencemaran, degradasi ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak semata-mata berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga berakar pada krisis moral, spiritual, sosial, dan peradaban. Karena itu, penyelesaian krisis lingkungan membutuhkan paradigma yang mampu membangun kembali hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.
Buku ini hadir, mengkaji ekoteologi sebagai perspektif yang menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan etis dan spiritual dalam membangun kesadaran ekologis. Dalam perspektif Islam, manusia dipahami sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki amanah untuk memelihara keseimbangan alam, menghindari kerusakan (fasad fi al-ard), serta memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga bagian dari manifestasi keimanan dan tanggung jawab manusia kepada Allah Swt.
Menariknya, pembahasan dalam buku ini tidak berhenti pada perspektif keagamaan. Nilai-nilai agama didialogkan dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat yang sejak lama mengandung prinsip-prinsip penghormatan, keseimbangan, dan keharmonisan dengan alam. Integrasi antara agama dan budaya tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun etika lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan, keadilan antargenerasi, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.
Buku ini mempertemukan kajian teologi, studi Islam, etika lingkungan, antropologi budaya, serta gagasan kontemporer tentang pembangunan berkelanjutan. Perspektif tersebut menjadikan ekoteologi bukan sekadar wacana akademik, melainkan tawaran konseptual untuk membangun kesadaran dan perilaku ekologis yang berakar pada nilai-nilai spiritual sekaligus kearifan budaya.
Ekoteologi dalam Perspektif Agama dan Budaya ditujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, akademisi, pemerhati lingkungan, tokoh agama, pembuat kebijakan, serta masyarakat luas yang ingin memahami persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih utuh. Lebih dari sekadar referensi ilmiah, buku ini mengajak pembaca menyadari bahwa menjaga alam merupakan amanah keagamaan, tanggung jawab kemanusiaan, dan warisan moral bagi generasi mendatang. Buku ini menawarkan sebuah refleksi penting: krisis ekologis tidak cukup diatasi hanya dengan teknologi dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang, etika, dan kesadaran spiritual manusia dalam memperlakukan alam. Melalui dialog antara agama dan budaya, ekoteologi diharapkan dapat menjadi salah satu pijakan menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan seluruh makhluk.
Stok Kosong