Jahiliah Modern: Memperjualbelikan Tuhan Saat Ibadah Jadi Bahan Jualan
| Penulis | : | Asep Safaat Siregar, S.Sos.I., S.Pd., M.Pd. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | x + 191 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 295 gram |
Kita sering menganggap zaman jahiliyah telah usai ribuan tahun yang lalu, terkubur bersama berhala-berhala batu di padang pasir. Namun, bagaimana jika berhala-berhala itu sebenarnya tidak pernah hilang, melainkan hanya berganti rupa menjadi sesuatu yang lebih bercahaya dan selalu ada dalam genggaman kita?
Buku ini merupakan sebuah refleksi jujur sekaligus "tamparan" lembut bagi jiwa manusia modern yang hidup di era disrupsi digital. Penulis mengajak kita menelusuri fenomena Digital Riya; sebuah kondisi di mana ketulusan ibadah sering kali kalah telak oleh syahwat eksistensi. Di tangan manusia modern, kamera ponsel seolah menjadi "saksi" yang lebih diharapkan kehadirannya daripada pengawasan Allah. Kita terjebak dalam akrobat ibadah demi tepuk tangan, di mana sedekah menjadi "berisik", haji menjadi panggung promosi diri, dan simbol agama dijadikan komoditas untuk memuluskan transaksi duniawi.
Melalui empat bagian yang mendalam, buku ini membongkar:
• Pergeseran Tauhid: Bagaimana "Likes" dan "Rating" perlahan-lahan menjadi objek sembahan baru yang mendikte kebahagiaan batin kita.
• Komodifikasi Agama: Bahaya menggunakan atribut kesalehan sebagai "modal marketing" untuk mencuri kepercayaan manusia.
• Tragedi Ibadah Transaksional: Saat kita tidak lagi merindukan Tuhan, melainkan hanya merindukan pemberian-Nya melalui doa-doa yang mendikte.
• Jalan Pulang: Menemukan kembali manisnya iman dalam kesunyian amalan rahasia yang tidak terjamah oleh lensa kamera.
"Jahiliyah Modern" bukan sekadar buku kritik sosial, melainkan sebuah undangan untuk "pulang" menjadi hamba yang utuh. Sebuah ajakan untuk meletakkan ponsel sejenak, mematikan lampu panggung dunia, dan kembali berbisik mesra kepada Sang Pencipta dalam sujud yang paling sunyi.
Karena pada akhirnya, keberkahan hidup tidak terletak pada seberapa banyak manusia yang terkesan oleh kesalehanmu, melainkan pada seberapa ridanya Allah saat menyebut namamu di depan para penduduk langit.
Stok Kosong
Jahiliah Modern: Memperjualbelikan Tuhan Saat Ibadah Jadi Bahan Jualan
| Penulis | : | Asep Safaat Siregar, S.Sos.I., S.Pd., M.Pd. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | x + 191 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 295 gram |
Kita sering menganggap zaman jahiliyah telah usai ribuan tahun yang lalu, terkubur bersama berhala-berhala batu di padang pasir. Namun, bagaimana jika berhala-berhala itu sebenarnya tidak pernah hilang, melainkan hanya berganti rupa menjadi sesuatu yang lebih bercahaya dan selalu ada dalam genggaman kita?
Buku ini merupakan sebuah refleksi jujur sekaligus "tamparan" lembut bagi jiwa manusia modern yang hidup di era disrupsi digital. Penulis mengajak kita menelusuri fenomena Digital Riya; sebuah kondisi di mana ketulusan ibadah sering kali kalah telak oleh syahwat eksistensi. Di tangan manusia modern, kamera ponsel seolah menjadi "saksi" yang lebih diharapkan kehadirannya daripada pengawasan Allah. Kita terjebak dalam akrobat ibadah demi tepuk tangan, di mana sedekah menjadi "berisik", haji menjadi panggung promosi diri, dan simbol agama dijadikan komoditas untuk memuluskan transaksi duniawi.
Melalui empat bagian yang mendalam, buku ini membongkar:
• Pergeseran Tauhid: Bagaimana "Likes" dan "Rating" perlahan-lahan menjadi objek sembahan baru yang mendikte kebahagiaan batin kita.
• Komodifikasi Agama: Bahaya menggunakan atribut kesalehan sebagai "modal marketing" untuk mencuri kepercayaan manusia.
• Tragedi Ibadah Transaksional: Saat kita tidak lagi merindukan Tuhan, melainkan hanya merindukan pemberian-Nya melalui doa-doa yang mendikte.
• Jalan Pulang: Menemukan kembali manisnya iman dalam kesunyian amalan rahasia yang tidak terjamah oleh lensa kamera.
"Jahiliyah Modern" bukan sekadar buku kritik sosial, melainkan sebuah undangan untuk "pulang" menjadi hamba yang utuh. Sebuah ajakan untuk meletakkan ponsel sejenak, mematikan lampu panggung dunia, dan kembali berbisik mesra kepada Sang Pencipta dalam sujud yang paling sunyi.
Karena pada akhirnya, keberkahan hidup tidak terletak pada seberapa banyak manusia yang terkesan oleh kesalehanmu, melainkan pada seberapa ridanya Allah saat menyebut namamu di depan para penduduk langit.
Stok Kosong