Sosiologi Al-Quran: Menuju Masyarakat Ideal Berbasis Spiritualitas, Moderasi, dan Berperadaban Maju
| Penulis | : | Wardani |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xxxii + 107 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-7707-57-8 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 200 gr |
Ajaran al-Qur`ân tidak hanya memuat persoalan-persoalan keyakinan dan ibadah, melainkan persoalan kemasyarakatan, termasuk dasar filosofi yang harus ada, seperti prinsip keimanan sebagai dasar spiritualitas, prinsip hidup sebagai berdampingan (peaceful co-existence) di era kemajemukan sekarang, dan berdinamika mengikuti perkembangan peradaban yang meniscayakan perubahan di tengah masyarakat yang semakin canggih. Relevansi teks al-Qur`ân untuk setiap zaman dan tempat yang sejak dahulu dinyatakan oleh lisan seorang Imam asy-Syâfi’î dalam al-Risâlah, bahwa “tidak ada suatu persoalan pun yang dihadapi oleh seorang penganut agama Allah SWT (Islam), melainkan dalam al-Qur`ân sudah ada petunjuk dalam bentuk petunjuk berkaitan dengannya (falaysat tanzilu bi ahadin min ahl dîn Allâh nâzilatun illâ wa fî kitâb Allâh ad-dalîl ‘alâ sabîl al-hudâ fîhâ)”.
Tentu tidak terbayang bagi kita bahwa al-Qur`ân akan menjawab semua persoalan secara rinci. Imam asy-Syâfi’î sendiri mengatakan jawaban al-Qur`ân terhadap permasalahan itu berupa dalil sebagai petunjuk. Dalam perspektif ushul al-fiqh, mekanisme mengambil dalil untuk menyikapi kasus-kasus baru dilakukan dengan metode qiyâs. Al-Qur`ân hanya memuat prinsip-prinsip dasar yang bisa dikembangkan untuk menjawab persoalan-persoalan baru.
Sosiologi Al-Quran: Menuju Masyarakat Ideal Berbasis Spiritualitas, Moderasi, dan Berperadaban Maju
| Penulis | : | Wardani |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xxxii + 107 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-7707-57-8 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 200 gr |
Ajaran al-Qur`ân tidak hanya memuat persoalan-persoalan keyakinan dan ibadah, melainkan persoalan kemasyarakatan, termasuk dasar filosofi yang harus ada, seperti prinsip keimanan sebagai dasar spiritualitas, prinsip hidup sebagai berdampingan (peaceful co-existence) di era kemajemukan sekarang, dan berdinamika mengikuti perkembangan peradaban yang meniscayakan perubahan di tengah masyarakat yang semakin canggih. Relevansi teks al-Qur`ân untuk setiap zaman dan tempat yang sejak dahulu dinyatakan oleh lisan seorang Imam asy-Syâfi’î dalam al-Risâlah, bahwa “tidak ada suatu persoalan pun yang dihadapi oleh seorang penganut agama Allah SWT (Islam), melainkan dalam al-Qur`ân sudah ada petunjuk dalam bentuk petunjuk berkaitan dengannya (falaysat tanzilu bi ahadin min ahl dîn Allâh nâzilatun illâ wa fî kitâb Allâh ad-dalîl ‘alâ sabîl al-hudâ fîhâ)”.
Tentu tidak terbayang bagi kita bahwa al-Qur`ân akan menjawab semua persoalan secara rinci. Imam asy-Syâfi’î sendiri mengatakan jawaban al-Qur`ân terhadap permasalahan itu berupa dalil sebagai petunjuk. Dalam perspektif ushul al-fiqh, mekanisme mengambil dalil untuk menyikapi kasus-kasus baru dilakukan dengan metode qiyâs. Al-Qur`ân hanya memuat prinsip-prinsip dasar yang bisa dikembangkan untuk menjawab persoalan-persoalan baru.