Menu

Tafsir Peradaban dan Ibrah Zaman

Penulis : Dr. Ulil Amri Syafri
Ukuran : 13.5 x 21 cm
Tebal : xxiv + 190 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 250 gram

Kisah Bani Israil yang diabadikan Al-Qur'an bukanlah museum sejarah untuk dikagumi atau dicela dari kejauhan. Ia adalah cermin yang sengaja diletakkan di hadapan setiap generasi agar manusia berani melihat wajahnya sendiri. Satir terbesar sejarah adalah kenyataan bahwa manusia sering mengutuk kesalahan umat terdahulu sambil mengulanginya dalam bentuk yang lebih modern dan lebih halus. Kita mengecam manipulasi agama di masa lampau, tetapi diam ketika agama diperdagangkan demi jabatan, pengaruh, dan keuntungan. Kita memuliakan wahyu dengan lisan, namun menyingkirkan tuntutannya ketika bertabrakan dengan kepentingan. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah ‘apakah agama masih hidup di tengah masyarakat?‘, melainkan ‘apakah nilai-nilai agama masih hidup di dalam diri para pemeluknya?‘. Sebab agama yang hidup melahirkan keadilan, sedangkan agama yang mati hanya melahirkan simbol.

Buku ini mengajak pembaca membaca kembali kisah Bani Israil sebagai cermin untuk memahami tantangan umat manusia sepanjang zaman. Berbagai penyimpangan yang pernah terjadi, seperti penyalahgunaan ilmu, pengkhianatan amanah, dan pengutamaan kepentingan di atas kebenaran, bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan peringatan yang tetap relevan hingga hari ini.

Dengan pendekatan tafsir yang reflektif dan kontekstual, buku ini menunjukkan bahwa kejayaan dan kehancuran sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kualitas akhlak, amanah, dan kesetiaan kepada nilai-nilai kebenaran. Sebuah ajakan untuk belajar dari sejarah agar mampu membangun masa depan yang lebih beradab.

Stok Kosong

Tafsir Peradaban dan Ibrah Zaman

Penulis : Dr. Ulil Amri Syafri
Ukuran : 13.5 x 21 cm
Tebal : xxiv + 190 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 250 gram

Kisah Bani Israil yang diabadikan Al-Qur'an bukanlah museum sejarah untuk dikagumi atau dicela dari kejauhan. Ia adalah cermin yang sengaja diletakkan di hadapan setiap generasi agar manusia berani melihat wajahnya sendiri. Satir terbesar sejarah adalah kenyataan bahwa manusia sering mengutuk kesalahan umat terdahulu sambil mengulanginya dalam bentuk yang lebih modern dan lebih halus. Kita mengecam manipulasi agama di masa lampau, tetapi diam ketika agama diperdagangkan demi jabatan, pengaruh, dan keuntungan. Kita memuliakan wahyu dengan lisan, namun menyingkirkan tuntutannya ketika bertabrakan dengan kepentingan. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah ‘apakah agama masih hidup di tengah masyarakat?‘, melainkan ‘apakah nilai-nilai agama masih hidup di dalam diri para pemeluknya?‘. Sebab agama yang hidup melahirkan keadilan, sedangkan agama yang mati hanya melahirkan simbol.

Buku ini mengajak pembaca membaca kembali kisah Bani Israil sebagai cermin untuk memahami tantangan umat manusia sepanjang zaman. Berbagai penyimpangan yang pernah terjadi, seperti penyalahgunaan ilmu, pengkhianatan amanah, dan pengutamaan kepentingan di atas kebenaran, bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan peringatan yang tetap relevan hingga hari ini.

Dengan pendekatan tafsir yang reflektif dan kontekstual, buku ini menunjukkan bahwa kejayaan dan kehancuran sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kualitas akhlak, amanah, dan kesetiaan kepada nilai-nilai kebenaran. Sebuah ajakan untuk belajar dari sejarah agar mampu membangun masa depan yang lebih beradab.

Stok Kosong