Kesadaran Sejati (True Awareness): Mengetahui Diri sebagai Koloni: Jalan Membebaskan Etika, Moral, dan Penghargaan Sejati Antarm
| Penulis | : | Tonny Djayalaksana |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | vi + 95 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 160 gram |
Selama lebih dari tiga dekade, penulis mencari makna kesadaran melalui meditasi, agama, guru spiritual, dan berbagai praktik mistis. Namun, pencarian itu tidak membuatnya terbebas dari kemarahan, iri hati, kesombongan, dan perasaan lebih baik daripada orang lain.
Titik balik terjadi ketika ia mengenal dunia mikrobioma dan menyadari bahwa tubuh manusia bukanlah sebuah “aku” yang berdiri sendiri, melainkan koloni kehidupan yang terdiri dari dan bergantung pada triliunan makhluk hidup.
Kesadaran ini mengubah cara pandangnya tentang manusia. Jika diri kita sendiri merupakan kehidupan yang saling bergantung, maka keterhubungan dengan sesama bukan sekadar ajaran moral, melainkan bagian dari hakikat keberadaan kita.
Buku ini mengajak pembaca mengenali kembali siapa dirinya, membongkar ilusi keterpisahan, dan menemukan bahwa etika, moral, kerendahan hati, serta penghargaan sejati terhadap manusia lain dapat tumbuh dari satu kesadaran sederhana:
Kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian.
Stok Kosong
Kesadaran Sejati (True Awareness): Mengetahui Diri sebagai Koloni: Jalan Membebaskan Etika, Moral, dan Penghargaan Sejati Antarm
| Penulis | : | Tonny Djayalaksana |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | vi + 95 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 160 gram |
Selama lebih dari tiga dekade, penulis mencari makna kesadaran melalui meditasi, agama, guru spiritual, dan berbagai praktik mistis. Namun, pencarian itu tidak membuatnya terbebas dari kemarahan, iri hati, kesombongan, dan perasaan lebih baik daripada orang lain.
Titik balik terjadi ketika ia mengenal dunia mikrobioma dan menyadari bahwa tubuh manusia bukanlah sebuah “aku” yang berdiri sendiri, melainkan koloni kehidupan yang terdiri dari dan bergantung pada triliunan makhluk hidup.
Kesadaran ini mengubah cara pandangnya tentang manusia. Jika diri kita sendiri merupakan kehidupan yang saling bergantung, maka keterhubungan dengan sesama bukan sekadar ajaran moral, melainkan bagian dari hakikat keberadaan kita.
Buku ini mengajak pembaca mengenali kembali siapa dirinya, membongkar ilusi keterpisahan, dan menemukan bahwa etika, moral, kerendahan hati, serta penghargaan sejati terhadap manusia lain dapat tumbuh dari satu kesadaran sederhana:
Kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian.
Stok Kosong