Menu

Morfologi Bahasa Ciacia: Kajian Proses Pembentukan Kata

Penulis : Dr. Husni, M.Hum., Dr. Juamdan Zamha Zamihu, M.Hum., La Umbu Zaadi, S.Pd., M.Hum.
Ukuran : 14.5 x 20.5 cm
Tebal : viii + 87 hlm.
ISBN : 978-623-466-243-6
Cover : Soft cover
Berat : -

Bahasa Ciacia selanjutnya disingkat (BC) merupakan rumpun bahasa Austronesia yang penuturnya mencapai kurang lebih 80.000 penutur pada tahun 2005 adalah salah satu bahasa daerah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2009, bahasa ini menarik perhatian dunia ketika Kota Baubau menerima tulisan Hanguel Korea untuk dijadikan sistem tulisan. Daerah pemakaiannya cukup luas meliputi wilayah Sampolawa dan daerah sekitarnya, Pasarwajo dan sekitarnya, wilayah Batuatas dan daerah sekitarnya, serta Wali pulau Binongko. BC sering digunakan oleh masyarakat penutur pada acara tertentu, misalnya dalam perkawinan, dan juga sebagai lingua franca oleh warga masyarakat penuturnya. Walaupun dengan perkembangan bahasa Indonesia yang begitu pesat, namun masyarakat penutur BC tetap mempertahankan keeksistensiannya di tengah-tengah masyarakat. Salah satu cara agar bahasa tidak mengalami kepunahan adalah orang tua selalu mengajarkan anakanaknya di lingkungan keluarga sejak dini. BC juga tersebar di berbagai wilyah nusantara, antara lain di Ambon, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya. Pada setiap daerah penutur, masing-masing menggunakan variasi bahasa yang berbeda. Mereka masih saling memahami apa yang dituturkan. Hal semacam ini disebut dengan dialek. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sampolawa tentu ada persamaan dan banyak perbedaan dengan masyarakat penutur Batuatas di Kabupaten Buton Selatan.

Stok Kosong

Morfologi Bahasa Ciacia: Kajian Proses Pembentukan Kata

Penulis : Dr. Husni, M.Hum., Dr. Juamdan Zamha Zamihu, M.Hum., La Umbu Zaadi, S.Pd., M.Hum.
Ukuran : 14.5 x 20.5 cm
Tebal : viii + 87 hlm.
ISBN : 978-623-466-243-6
Cover : Soft cover
Berat : -

Bahasa Ciacia selanjutnya disingkat (BC) merupakan rumpun bahasa Austronesia yang penuturnya mencapai kurang lebih 80.000 penutur pada tahun 2005 adalah salah satu bahasa daerah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2009, bahasa ini menarik perhatian dunia ketika Kota Baubau menerima tulisan Hanguel Korea untuk dijadikan sistem tulisan. Daerah pemakaiannya cukup luas meliputi wilayah Sampolawa dan daerah sekitarnya, Pasarwajo dan sekitarnya, wilayah Batuatas dan daerah sekitarnya, serta Wali pulau Binongko. BC sering digunakan oleh masyarakat penutur pada acara tertentu, misalnya dalam perkawinan, dan juga sebagai lingua franca oleh warga masyarakat penuturnya. Walaupun dengan perkembangan bahasa Indonesia yang begitu pesat, namun masyarakat penutur BC tetap mempertahankan keeksistensiannya di tengah-tengah masyarakat. Salah satu cara agar bahasa tidak mengalami kepunahan adalah orang tua selalu mengajarkan anakanaknya di lingkungan keluarga sejak dini. BC juga tersebar di berbagai wilyah nusantara, antara lain di Ambon, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya. Pada setiap daerah penutur, masing-masing menggunakan variasi bahasa yang berbeda. Mereka masih saling memahami apa yang dituturkan. Hal semacam ini disebut dengan dialek. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sampolawa tentu ada persamaan dan banyak perbedaan dengan masyarakat penutur Batuatas di Kabupaten Buton Selatan.

Stok Kosong