Pembelajaran Mendalam di Sekolah Dasar
| Penulis | : | Daryanti Apriani, S.Pd. & Jati Suryanto, S.Pd., M.Pd. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | x + 308 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-800-1 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 450 gram |
Buku ini merupakan buku reflektif–praktis yang hadir sebagai jawaban atas tantangan pendidikan dasar di Indonesia, di mana pembelajaran masih sering berhenti pada level permukaan (surface learning). Budaya kelas yang dominan berpusat pada guru, target kurikulum yang dikejar secara mekanis, serta tekanan administratif dan orientasi skor akademik membentuk praktik belajar yang minim dialog, menekankan hafalan, dan melemahkan kemampuan anak untuk menalar, bertanya, serta menghubungkan konsep dengan realitas hidup. Anak dilatih untuk menjawab soal, bukan untuk memahami dan mentransfer pengetahuan ke situasi baru.
Buku ini memosisikan deep learning sebagai paradigma pembelajaran yang menumbuhkan pemahaman konseptual, keterhubungan antargagasan, refleksi kritis, dan kemampuan transfer pengetahuan. Di jenjang sekolah dasar, fase ketika rasa ingin tahu anak berada pada titik paling subur, belajar dipahami sebagai proses konstruksi makna melalui pengalaman konkret, observasi, percobaan, diskusi, dan pemaknaan personal. Guru didorong untuk menggeser kebiasaan memberi jawaban instan menjadi fasilitator berpikir yang memberi ruang tunggu (wait-time), merancang pertanyaan pemantik yang menggugah nalar, menumbuhkan keberanian intelektual, serta mengarahkan eksplorasi yang bermakna.
Gagasan deep learning dipadukan secara selaras dengan kebijakan pendidikan nasional, terutama Profil Pelajar Pancasila dan keterampilan abad ke-21 (4C): berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Konsep tersebut diterjemahkan secara tematik dan kontekstual dengan contoh praktik yang dekat dengan kehidupan anak Indonesia, seperti proyek sains berbasis lingkungan, literasi budaya lokal, eksplorasi matematika kontekstual, serta pemecahan masalah autentik di sekitar sekolah dan rumah.
Asesmen juga mengalami pergeseran makna: dari sekadar mengukur hasil menjadi menilai proses dan perkembangan berpikir. Penilaian formatif, reflektif, dan berbasis portofolio digunakan bersama rubrik sederhana yang menilai kedalaman pemahaman, kreativitas, dan kolaborasi secara seimbang. Guru diposisikan sebagai subjek perubahan melalui teacher agency, kebiasaan refleksi, keberanian mencoba, dan kolaborasi sejawat dalam komunitas belajar seperti KKG dan lesson study.
Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa deep learning bukan sekadar tren, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun generasi pembelajar yang paham, kreatif, reflektif, literat, dan berkarakter kuat, pembelajar sepanjang hayat yang merdeka dalam berpikir, belajar dengan hati, dan bertumbuh secara berkelanjutan.
Stok Kosong
Pembelajaran Mendalam di Sekolah Dasar
| Penulis | : | Daryanti Apriani, S.Pd. & Jati Suryanto, S.Pd., M.Pd. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | x + 308 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-800-1 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 450 gram |
Buku ini merupakan buku reflektif–praktis yang hadir sebagai jawaban atas tantangan pendidikan dasar di Indonesia, di mana pembelajaran masih sering berhenti pada level permukaan (surface learning). Budaya kelas yang dominan berpusat pada guru, target kurikulum yang dikejar secara mekanis, serta tekanan administratif dan orientasi skor akademik membentuk praktik belajar yang minim dialog, menekankan hafalan, dan melemahkan kemampuan anak untuk menalar, bertanya, serta menghubungkan konsep dengan realitas hidup. Anak dilatih untuk menjawab soal, bukan untuk memahami dan mentransfer pengetahuan ke situasi baru.
Buku ini memosisikan deep learning sebagai paradigma pembelajaran yang menumbuhkan pemahaman konseptual, keterhubungan antargagasan, refleksi kritis, dan kemampuan transfer pengetahuan. Di jenjang sekolah dasar, fase ketika rasa ingin tahu anak berada pada titik paling subur, belajar dipahami sebagai proses konstruksi makna melalui pengalaman konkret, observasi, percobaan, diskusi, dan pemaknaan personal. Guru didorong untuk menggeser kebiasaan memberi jawaban instan menjadi fasilitator berpikir yang memberi ruang tunggu (wait-time), merancang pertanyaan pemantik yang menggugah nalar, menumbuhkan keberanian intelektual, serta mengarahkan eksplorasi yang bermakna.
Gagasan deep learning dipadukan secara selaras dengan kebijakan pendidikan nasional, terutama Profil Pelajar Pancasila dan keterampilan abad ke-21 (4C): berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Konsep tersebut diterjemahkan secara tematik dan kontekstual dengan contoh praktik yang dekat dengan kehidupan anak Indonesia, seperti proyek sains berbasis lingkungan, literasi budaya lokal, eksplorasi matematika kontekstual, serta pemecahan masalah autentik di sekitar sekolah dan rumah.
Asesmen juga mengalami pergeseran makna: dari sekadar mengukur hasil menjadi menilai proses dan perkembangan berpikir. Penilaian formatif, reflektif, dan berbasis portofolio digunakan bersama rubrik sederhana yang menilai kedalaman pemahaman, kreativitas, dan kolaborasi secara seimbang. Guru diposisikan sebagai subjek perubahan melalui teacher agency, kebiasaan refleksi, keberanian mencoba, dan kolaborasi sejawat dalam komunitas belajar seperti KKG dan lesson study.
Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa deep learning bukan sekadar tren, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun generasi pembelajar yang paham, kreatif, reflektif, literat, dan berkarakter kuat, pembelajar sepanjang hayat yang merdeka dalam berpikir, belajar dengan hati, dan bertumbuh secara berkelanjutan.
Stok Kosong