Menu

The Quorum I: Asal-Usul Sistem

Penulis : Tonny Djayalaksana
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : lxviii + 475 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 730 gram

Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem adalah sebuah karya konseptual-filosofis yang memadukan kosmologi, biologi evolusioner, teori sistem, dan refleksi eksistensial dalam satu arsitektur gagasan besar. Bahwa kehidupan tidak pernah berpusat pada manusia, melainkan pada sistem. Kitab ini dibuka secara epik dengan “Kitab Zero”—sebuah pengantar kosmogonik yang membawa pembaca pada fase pra kehidupan, ketika semesta belum memiliki bentuk, hukum, maupun arah. Dari “retakan pertama” dalam keheningan absolut, lahir energi, ruang, waktu, dan hukum-hukum dasar fisika sebagai hasil seleksi kosmik atas stabilitas. Semesta tidak diciptakan sebagai mahakarya, melainkan sebagai konsekuensi dari ketidakseimbangan yang tak dapat dihindari.

Narasi kemudian bergerak ke bumi sebagai anomali kosmik: sebuah laboratorium alami yang cukup stabil untuk mempertahankan reaksi, namun cukup dinamis untuk memungkinkan kompleksitas. Dari titik inilah muncul mikroba—struktur sederhana yang mampu bertahan melawan entropi. Mikroba bukan sekadar organisme awal, melainkan arsitek planet: pencipta atmosfer, penstabil karbon, perintis metabolisme global.
Puncak konseptual buku ini terletak pada gagasan The Quorum—bahwa ambang kolektif ketika suatu sistem mencapai titik kritis untuk berubah. Melalui mekanisme quorum sensing, mikroba mampu “menghitung” keberadaan kolektifnya dan mengambil keputusan tanpa pemimpin, tanpa pusat, dan tanpa ego. Dari sinilah sistem biologis pertama lahir: keputusan kolektif tanpa kesadaran individual.

Kitab ini mengembangkan lebih dari seratus “Hukum Kehidupan”—mulai dari hukum homeostasis, efisiensi energi, redundansi, distribusi risiko, modularitas, hingga resiliensi sistemik. Semua hukum tersebut mengarah pada satu “disertasi” utama. Yakni: kehidupan bertahan bukan karena kekuatan individu, melainkan karena keselarasan sistemik dan kemampuan adaptif kolektif-kolegial.

Manusia dalam kitab ini ditempatkan bukan sebagai pusat sejarah, tetapi hanya sebagai simpul paling muda dalam jaringan biologis purba. Peradaban, teknologi, bahkan kepunahan massal dijelaskan sebagai fenomena Quorum—hasil akumulasi tekanan hingga mencapai ambang tak terhindarkan. Dengan demikian, kitab ini bukan sekadar narasi ilmiah, melainkan peringatan eksistensial: jika manusia gagal selaras dengan hukum sistem, maka akan tersingkir sebagaimana para “titan” sebelumna. Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem adalah dekonstruksi antroposentrisme dan sekaligus rekonstruksi cara pandang terhadap kehidupan sebagai fenomena sistemik yang dingin, presisi, dan tidak sentimental.

Editor buku ini menilai bahwa kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan kosmologi, mikrobiologi, teori evolusi, dan teori sistem dalam satu kerangka konseptual yang utuh. Selain itu otentisitas gagasan dari Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem ini sebagai metafora sekaligus prinsip biologis dikembangkan menjadi fondasi ontologis kehidupan. Gaya bahasa yang dipakai sangat argumentatif, dapat menjembatani pembaca populer dan akademik. Isu yang dibahas akan selalu relevan dan sangat kontekstual dengan isu perubahan iklim, krisis ekologis, dan ketahanan peradaban global. Yang layak membaca buku ini adalah: akademisi dan mahasiswa bidang filsafat, biologi, komunikasi, dan ilmu social; serta para birokrat, pemerhati filsafat dan lingkungan hidup, serta dunia kesehatan. 

Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem bukan sekadar buku tentang asal-usul kehidupan. Ia adalah upaya menyusun ulang cara manusia memandang dirinya sendiri. Dengan “disertasi” bahwa kehidupan tunduk pada hukum kolektif sistemik, bukan kehendak individual, kitab ini menawarkan kesadaran baru yang radikal, dingin, dan ilmiah. Ia bukan kitab penghiburan. Ia adalah kitab pengoreksi. Dalam lanskap literatur Indonesia, pendekatan konseptual sejenis ini tergolong langka—sehingga memiliki diferensiasi kuat dan nilai jual intelektual yang tinggi. (*)
 

Stok Kosong

The Quorum I: Asal-Usul Sistem

Penulis : Tonny Djayalaksana
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : lxviii + 475 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 730 gram

Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem adalah sebuah karya konseptual-filosofis yang memadukan kosmologi, biologi evolusioner, teori sistem, dan refleksi eksistensial dalam satu arsitektur gagasan besar. Bahwa kehidupan tidak pernah berpusat pada manusia, melainkan pada sistem. Kitab ini dibuka secara epik dengan “Kitab Zero”—sebuah pengantar kosmogonik yang membawa pembaca pada fase pra kehidupan, ketika semesta belum memiliki bentuk, hukum, maupun arah. Dari “retakan pertama” dalam keheningan absolut, lahir energi, ruang, waktu, dan hukum-hukum dasar fisika sebagai hasil seleksi kosmik atas stabilitas. Semesta tidak diciptakan sebagai mahakarya, melainkan sebagai konsekuensi dari ketidakseimbangan yang tak dapat dihindari.

Narasi kemudian bergerak ke bumi sebagai anomali kosmik: sebuah laboratorium alami yang cukup stabil untuk mempertahankan reaksi, namun cukup dinamis untuk memungkinkan kompleksitas. Dari titik inilah muncul mikroba—struktur sederhana yang mampu bertahan melawan entropi. Mikroba bukan sekadar organisme awal, melainkan arsitek planet: pencipta atmosfer, penstabil karbon, perintis metabolisme global.
Puncak konseptual buku ini terletak pada gagasan The Quorum—bahwa ambang kolektif ketika suatu sistem mencapai titik kritis untuk berubah. Melalui mekanisme quorum sensing, mikroba mampu “menghitung” keberadaan kolektifnya dan mengambil keputusan tanpa pemimpin, tanpa pusat, dan tanpa ego. Dari sinilah sistem biologis pertama lahir: keputusan kolektif tanpa kesadaran individual.

Kitab ini mengembangkan lebih dari seratus “Hukum Kehidupan”—mulai dari hukum homeostasis, efisiensi energi, redundansi, distribusi risiko, modularitas, hingga resiliensi sistemik. Semua hukum tersebut mengarah pada satu “disertasi” utama. Yakni: kehidupan bertahan bukan karena kekuatan individu, melainkan karena keselarasan sistemik dan kemampuan adaptif kolektif-kolegial.

Manusia dalam kitab ini ditempatkan bukan sebagai pusat sejarah, tetapi hanya sebagai simpul paling muda dalam jaringan biologis purba. Peradaban, teknologi, bahkan kepunahan massal dijelaskan sebagai fenomena Quorum—hasil akumulasi tekanan hingga mencapai ambang tak terhindarkan. Dengan demikian, kitab ini bukan sekadar narasi ilmiah, melainkan peringatan eksistensial: jika manusia gagal selaras dengan hukum sistem, maka akan tersingkir sebagaimana para “titan” sebelumna. Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem adalah dekonstruksi antroposentrisme dan sekaligus rekonstruksi cara pandang terhadap kehidupan sebagai fenomena sistemik yang dingin, presisi, dan tidak sentimental.

Editor buku ini menilai bahwa kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan kosmologi, mikrobiologi, teori evolusi, dan teori sistem dalam satu kerangka konseptual yang utuh. Selain itu otentisitas gagasan dari Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem ini sebagai metafora sekaligus prinsip biologis dikembangkan menjadi fondasi ontologis kehidupan. Gaya bahasa yang dipakai sangat argumentatif, dapat menjembatani pembaca populer dan akademik. Isu yang dibahas akan selalu relevan dan sangat kontekstual dengan isu perubahan iklim, krisis ekologis, dan ketahanan peradaban global. Yang layak membaca buku ini adalah: akademisi dan mahasiswa bidang filsafat, biologi, komunikasi, dan ilmu social; serta para birokrat, pemerhati filsafat dan lingkungan hidup, serta dunia kesehatan. 

Kitab The Quorum: Asal-Usul Sistem bukan sekadar buku tentang asal-usul kehidupan. Ia adalah upaya menyusun ulang cara manusia memandang dirinya sendiri. Dengan “disertasi” bahwa kehidupan tunduk pada hukum kolektif sistemik, bukan kehendak individual, kitab ini menawarkan kesadaran baru yang radikal, dingin, dan ilmiah. Ia bukan kitab penghiburan. Ia adalah kitab pengoreksi. Dalam lanskap literatur Indonesia, pendekatan konseptual sejenis ini tergolong langka—sehingga memiliki diferensiasi kuat dan nilai jual intelektual yang tinggi. (*)
 

Stok Kosong