Kapitalis Bersongkok Nasional: Potret Sosial Negeri Wakanda
| Penulis | : | Irwan Hidayat |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | xii + 163 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-317-4 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 200 gram |
Struktur sosial di dalam masyarakat yang kompleks membuat kita kerap bias interpretasi. Desa yang seyogianya memiliki banyak potensi baik, akibat dari pergeseran pemahaman mengakibatkan jurang partisipasi yang memisahkan desa dan kota. Karena kota selalu lekat dengan label kemajuan, dan desa lekat dengan label keterbelakangan, struktur masyarakat yang ada di dalamnya terpolarisasi. Padahal, kalau ditelaah lebih jauh, peran masyarakat desa dan kota itu sama. Sama-sama memiliki relasi satu sama lain sebagai wujud kebutuhan alamiah mereka. Tetapi karena ada tangan-tangan tak terlihat (baca: kebijakan) yang menyebabkan desa tak makin berkembang, relasi antar masyarakat desa-kota menjadi nihil. Alih-alih ada pemberdayaan desa melalui kebijakan pemerintah, yang terjadi malah perampasan ruang hidup. Kebijakan pemerintah datang tidak sebagai juru selamat, tetapi sebagai buldoser yang kapan saja siap melindas rumah dan ruang hidup masyarakat.
Buku ini berusaha menangkap peristiwa riil yang dramatis dan tragis itu melalui format bunga rampai yang disusun secara ilmiah. Buku ini mengantarkan kita untuk masuk ke wilayah paling intim di dalam masyarakat, yang tidak banyak diperhatikan.
Stok Kosong
Kapitalis Bersongkok Nasional: Potret Sosial Negeri Wakanda
| Penulis | : | Irwan Hidayat |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | xii + 163 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-317-4 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 200 gram |
Struktur sosial di dalam masyarakat yang kompleks membuat kita kerap bias interpretasi. Desa yang seyogianya memiliki banyak potensi baik, akibat dari pergeseran pemahaman mengakibatkan jurang partisipasi yang memisahkan desa dan kota. Karena kota selalu lekat dengan label kemajuan, dan desa lekat dengan label keterbelakangan, struktur masyarakat yang ada di dalamnya terpolarisasi. Padahal, kalau ditelaah lebih jauh, peran masyarakat desa dan kota itu sama. Sama-sama memiliki relasi satu sama lain sebagai wujud kebutuhan alamiah mereka. Tetapi karena ada tangan-tangan tak terlihat (baca: kebijakan) yang menyebabkan desa tak makin berkembang, relasi antar masyarakat desa-kota menjadi nihil. Alih-alih ada pemberdayaan desa melalui kebijakan pemerintah, yang terjadi malah perampasan ruang hidup. Kebijakan pemerintah datang tidak sebagai juru selamat, tetapi sebagai buldoser yang kapan saja siap melindas rumah dan ruang hidup masyarakat.
Buku ini berusaha menangkap peristiwa riil yang dramatis dan tragis itu melalui format bunga rampai yang disusun secara ilmiah. Buku ini mengantarkan kita untuk masuk ke wilayah paling intim di dalam masyarakat, yang tidak banyak diperhatikan.
Stok Kosong