Potret Pembelajaran Kaligrafi: Kaidah Imlaiyyah Dalam Praksis Pembelajaran Kaligrafi di LEMKA Sukabumi
| Penulis | : | Dr. Etika Vestia, S.S., M.A. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xiv + 156 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Banyak yang salah membaca karena tidak kenal ilmu Nahwu, dan tidak sedikit yang keliru menulis karena kurang menguasai ilmu Imlak. Terutama dalam hal kesalahan Imlak, penyebabnya adalah karena minimnya pelajaran ini diberikan di sekolah atau pesantren, atau sikap “enggan belajar” dan terbiasa menulis hanya dengan “menebak” atau “main tebak”, yang berujung pada kesalahan. Bagi pelajar atau pelomba yang menguasai ilmu Imlak, kesalahan tulis semacam itu bisa diminimalisir bahkan mungkin tidak akan salah sama sekali.
Etika dengan manisnya mencontohkan “kisah” pembelajaran kaligrafi berbasis kaidah imlaiyah di ex almamaternya, Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka. Lebih menarik, uraiannya yang rinci tentang “bab-bab kesalahan” dan “pasal-pasal pelajaran inti” kaidah imlaiyah yang dialami langsung santri Lemka yang diinformasikan Doktor Kaligrafi. Dari Sumber ini intinya merupakan pelajaran bahkan peringatan dini supaya kita sungguh-sungguh belajar sampai menguasai kaidah imlaiyah biar tidak salah tulis. “Tembakan” khusus, tentu, diarahkan kepada para khattat atau kaligrafer yang aktif terlibat dalam lomba-lomba kaligrafi baik nasional maupun internasional. Ajang “adu benar” dan “adu indah” ini sangat berkaitan dengan pengusaan kaidah imlaiyah yang sepadan.
Stok Kosong
Potret Pembelajaran Kaligrafi: Kaidah Imlaiyyah Dalam Praksis Pembelajaran Kaligrafi di LEMKA Sukabumi
| Penulis | : | Dr. Etika Vestia, S.S., M.A. |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xiv + 156 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Banyak yang salah membaca karena tidak kenal ilmu Nahwu, dan tidak sedikit yang keliru menulis karena kurang menguasai ilmu Imlak. Terutama dalam hal kesalahan Imlak, penyebabnya adalah karena minimnya pelajaran ini diberikan di sekolah atau pesantren, atau sikap “enggan belajar” dan terbiasa menulis hanya dengan “menebak” atau “main tebak”, yang berujung pada kesalahan. Bagi pelajar atau pelomba yang menguasai ilmu Imlak, kesalahan tulis semacam itu bisa diminimalisir bahkan mungkin tidak akan salah sama sekali.
Etika dengan manisnya mencontohkan “kisah” pembelajaran kaligrafi berbasis kaidah imlaiyah di ex almamaternya, Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka. Lebih menarik, uraiannya yang rinci tentang “bab-bab kesalahan” dan “pasal-pasal pelajaran inti” kaidah imlaiyah yang dialami langsung santri Lemka yang diinformasikan Doktor Kaligrafi. Dari Sumber ini intinya merupakan pelajaran bahkan peringatan dini supaya kita sungguh-sungguh belajar sampai menguasai kaidah imlaiyah biar tidak salah tulis. “Tembakan” khusus, tentu, diarahkan kepada para khattat atau kaligrafer yang aktif terlibat dalam lomba-lomba kaligrafi baik nasional maupun internasional. Ajang “adu benar” dan “adu indah” ini sangat berkaitan dengan pengusaan kaidah imlaiyah yang sepadan.
Stok Kosong