Menu

Kepemimpinan Intelektual Perempuan: Pengetahuan, Etika, dan Transformasi Menuju Peradaban Berkelanjutan

Penulis : Prof. Dr. Syamsiah Badruddin, M.Si., Dr. Hj. Fatmawati Latif, M.Si, M.A., dkk.
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : xii + 463 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 670 gram

Di tengah perubahan sosial yang cepat, kemajuan teknologi digital, krisis ekologis, ketimpangan, disinformasi, dan melemahnya etika publik, dunia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada jabatan dan kekuasaan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan gagasan, membaca realitas secara kritis, menyuarakan kebenaran, merawat kemanusiaan, serta mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata. Dalam konteks inilah buku Kepemimpinan Intelektual Perempuan: Pengetahuan, Etika, dan Transformasi Menuju Peradaban Berkelanjutan hadir.

Buku ini menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, korban ketidakadilan, atau pelengkap dalam ruang publik. Perempuan diposisikan sebagai produsen pengetahuan, pemimpin gagasan, penjaga etika publik, penggerak komunitas, pembaru kebijakan, dan agen transformasi sosial. Kepemimpinan intelektual perempuan tidak dibatasi oleh jabatan formal, gelar akademik, atau popularitas. Kepemimpinan tersebut dapat hadir melalui kegiatan mengajar, meneliti, menulis, membangun sekolah, mendampingi masyarakat, memperjuangkan kebijakan, menjaga lingkungan, menciptakan ruang dialog, serta menyebarkan pengetahuan melalui media digital.

Dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan sosiologi, studi gender, pendidikan, filsafat moral, kebijakan publik, komunikasi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan, buku ini menguraikan hubungan erat antara pengetahuan, etika, kepekaan sosial, dan perubahan masyarakat. Pengetahuan memberi kemampuan untuk memahami persoalan secara mendalam. Etika memastikan agar ilmu dan kekuasaan digunakan untuk memuliakan manusia. Kepekaan sosial menjaga agar gagasan dan kebijakan tetap berakar pada pengalaman nyata masyarakat, terutama perempuan dan kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Pembahasan diawali dengan penjelasan mengenai urgensi kepemimpinan intelektual perempuan dan kedudukan perempuan sebagai agen perubahan sosial. Buku ini kemudian menguraikan makna serta karakteristik kepemimpinan intelektual yang reflektif, kritis, kolaboratif, transformasional, inklusif, komunikatif, berintegritas, tangguh, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kepemimpinan tersebut tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu membangun dialog, melakukan advokasi, memperkuat jejaring, mengembangkan literasi digital, dan menumbuhkan harapan sosial.

Pembaca juga diajak menelusuri perjalanan panjang perempuan dalam sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban. Dari perempuan pemikir dalam tradisi kuno, pendidik dan ulama perempuan, ilmuwan, filsuf, penulis, jurnalis, hingga tokoh-tokoh gerakan perempuan Indonesia, buku ini menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah benar-benar absen dari sejarah pengetahuan. Namun, kontribusi mereka kerap dihapus, diperkecil, atau tidak memperoleh pengakuan yang setara. Pembatasan akses pendidikan, beban domestik, stereotipe rasionalitas, bias publikasi dan sitasi, pengawasan moral, ketidakadilan epistemik, serta kekerasan di ruang publik dan digital menjadi bagian dari tantangan yang dianalisis secara kritis.

Pendidikan ditempatkan sebagai fondasi utama bagi lahirnya kepemimpinan perempuan. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai jalan menuju pekerjaan, tetapi sebagai proses pembentukan kesadaran kritis, keberanian berpikir, kemampuan menafsirkan pengalaman, dan kapasitas menentukan arah kehidupan. Karena itu, buku ini membahas kesetaraan akses pendidikan, pendidikan kritis, literasi, riset, kemampuan menulis, serta produksi pengetahuan perempuan.

Lebih jauh, buku ini menghubungkan kepemimpinan perempuan dengan pembentukan masyarakat berkeadaban. Integritas, kepedulian, dialog, toleransi, perdamaian, penghormatan terhadap perbedaan, dan perlindungan terhadap kelompok rentan dipandang sebagai unsur penting dalam kehidupan publik. Perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga nalar dan etika masyarakat, membangun solidaritas, serta mencegah kemajuan teknologi dan ekonomi kehilangan arah kemanusiaannya.

Dalam ranah kebijakan, perempuan didorong untuk hadir bukan hanya sebagai objek konsultasi, tetapi sebagai aktor yang ikut menentukan agenda, merumuskan keputusan, mengawal anggaran, dan menilai dampak kebijakan. Advokasi keadilan sosial, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan kebijakan publik yang responsif gender dibahas sebagai jalan untuk mengubah gagasan menjadi transformasi struktural.

Buku ini juga memberi perhatian besar pada era digital. Teknologi menawarkan peluang bagi perempuan untuk belajar, berkarya, berjejaring, membangun gerakan, dan menyebarkan gagasan secara luas. Namun, ruang digital juga menghadirkan kekerasan berbasis gender, doxing, manipulasi citra, disinformasi, eksploitasi data, dan bias algoritmik. Oleh sebab itu, literasi informasi, keamanan digital, etika komunikasi, serta keberanian perempuan membentuk budaya digital yang beradab menjadi bagian penting dari kepemimpinan masa kini.

Persoalan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan turut menjadi fokus utama. Perempuan dipandang bukan hanya sebagai kelompok yang terdampak oleh krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan ekonomi, tetapi juga sebagai pengelola pengetahuan lokal, penggerak ekonomi komunitas, penjaga ketahanan pangan, pemimpin konservasi, serta aktor penting dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pada bagian akhirnya, buku ini menawarkan strategi penguatan kepemimpinan intelektual perempuan melalui pendidikan, mentoring, jejaring, kolaborasi lintas sektor, pendanaan riset, perlindungan dari kekerasan, kebijakan organisasi yang adil, pengakuan terhadap kerja perawatan, serta pembangunan ekosistem pengetahuan yang inklusif. Keseluruhan pembahasan bermuara pada visi masyarakat yang adil, demokratis, damai, berkeadaban, dan berkelanjutan. 

Buku ini relevan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, guru, aktivis, pemimpin organisasi, pengambil kebijakan, tokoh masyarakat, praktisi pembangunan, dan siapa pun yang percaya bahwa masa depan yang lebih manusiawi hanya dapat dibangun ketika perempuan memperoleh ruang yang setara untuk berpikir, berbicara, menulis, memimpin, dan menentukan arah peradaban.
 

Stok Kosong

Kepemimpinan Intelektual Perempuan: Pengetahuan, Etika, dan Transformasi Menuju Peradaban Berkelanjutan

Penulis : Prof. Dr. Syamsiah Badruddin, M.Si., Dr. Hj. Fatmawati Latif, M.Si, M.A., dkk.
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : xii + 463 hlm.
ISBN : -
Cover : Soft cover
Berat : 670 gram

Di tengah perubahan sosial yang cepat, kemajuan teknologi digital, krisis ekologis, ketimpangan, disinformasi, dan melemahnya etika publik, dunia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada jabatan dan kekuasaan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan gagasan, membaca realitas secara kritis, menyuarakan kebenaran, merawat kemanusiaan, serta mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata. Dalam konteks inilah buku Kepemimpinan Intelektual Perempuan: Pengetahuan, Etika, dan Transformasi Menuju Peradaban Berkelanjutan hadir.

Buku ini menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, korban ketidakadilan, atau pelengkap dalam ruang publik. Perempuan diposisikan sebagai produsen pengetahuan, pemimpin gagasan, penjaga etika publik, penggerak komunitas, pembaru kebijakan, dan agen transformasi sosial. Kepemimpinan intelektual perempuan tidak dibatasi oleh jabatan formal, gelar akademik, atau popularitas. Kepemimpinan tersebut dapat hadir melalui kegiatan mengajar, meneliti, menulis, membangun sekolah, mendampingi masyarakat, memperjuangkan kebijakan, menjaga lingkungan, menciptakan ruang dialog, serta menyebarkan pengetahuan melalui media digital.

Dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan sosiologi, studi gender, pendidikan, filsafat moral, kebijakan publik, komunikasi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan, buku ini menguraikan hubungan erat antara pengetahuan, etika, kepekaan sosial, dan perubahan masyarakat. Pengetahuan memberi kemampuan untuk memahami persoalan secara mendalam. Etika memastikan agar ilmu dan kekuasaan digunakan untuk memuliakan manusia. Kepekaan sosial menjaga agar gagasan dan kebijakan tetap berakar pada pengalaman nyata masyarakat, terutama perempuan dan kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Pembahasan diawali dengan penjelasan mengenai urgensi kepemimpinan intelektual perempuan dan kedudukan perempuan sebagai agen perubahan sosial. Buku ini kemudian menguraikan makna serta karakteristik kepemimpinan intelektual yang reflektif, kritis, kolaboratif, transformasional, inklusif, komunikatif, berintegritas, tangguh, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kepemimpinan tersebut tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu membangun dialog, melakukan advokasi, memperkuat jejaring, mengembangkan literasi digital, dan menumbuhkan harapan sosial.

Pembaca juga diajak menelusuri perjalanan panjang perempuan dalam sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban. Dari perempuan pemikir dalam tradisi kuno, pendidik dan ulama perempuan, ilmuwan, filsuf, penulis, jurnalis, hingga tokoh-tokoh gerakan perempuan Indonesia, buku ini menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah benar-benar absen dari sejarah pengetahuan. Namun, kontribusi mereka kerap dihapus, diperkecil, atau tidak memperoleh pengakuan yang setara. Pembatasan akses pendidikan, beban domestik, stereotipe rasionalitas, bias publikasi dan sitasi, pengawasan moral, ketidakadilan epistemik, serta kekerasan di ruang publik dan digital menjadi bagian dari tantangan yang dianalisis secara kritis.

Pendidikan ditempatkan sebagai fondasi utama bagi lahirnya kepemimpinan perempuan. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai jalan menuju pekerjaan, tetapi sebagai proses pembentukan kesadaran kritis, keberanian berpikir, kemampuan menafsirkan pengalaman, dan kapasitas menentukan arah kehidupan. Karena itu, buku ini membahas kesetaraan akses pendidikan, pendidikan kritis, literasi, riset, kemampuan menulis, serta produksi pengetahuan perempuan.

Lebih jauh, buku ini menghubungkan kepemimpinan perempuan dengan pembentukan masyarakat berkeadaban. Integritas, kepedulian, dialog, toleransi, perdamaian, penghormatan terhadap perbedaan, dan perlindungan terhadap kelompok rentan dipandang sebagai unsur penting dalam kehidupan publik. Perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga nalar dan etika masyarakat, membangun solidaritas, serta mencegah kemajuan teknologi dan ekonomi kehilangan arah kemanusiaannya.

Dalam ranah kebijakan, perempuan didorong untuk hadir bukan hanya sebagai objek konsultasi, tetapi sebagai aktor yang ikut menentukan agenda, merumuskan keputusan, mengawal anggaran, dan menilai dampak kebijakan. Advokasi keadilan sosial, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan kebijakan publik yang responsif gender dibahas sebagai jalan untuk mengubah gagasan menjadi transformasi struktural.

Buku ini juga memberi perhatian besar pada era digital. Teknologi menawarkan peluang bagi perempuan untuk belajar, berkarya, berjejaring, membangun gerakan, dan menyebarkan gagasan secara luas. Namun, ruang digital juga menghadirkan kekerasan berbasis gender, doxing, manipulasi citra, disinformasi, eksploitasi data, dan bias algoritmik. Oleh sebab itu, literasi informasi, keamanan digital, etika komunikasi, serta keberanian perempuan membentuk budaya digital yang beradab menjadi bagian penting dari kepemimpinan masa kini.

Persoalan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan turut menjadi fokus utama. Perempuan dipandang bukan hanya sebagai kelompok yang terdampak oleh krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan ekonomi, tetapi juga sebagai pengelola pengetahuan lokal, penggerak ekonomi komunitas, penjaga ketahanan pangan, pemimpin konservasi, serta aktor penting dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pada bagian akhirnya, buku ini menawarkan strategi penguatan kepemimpinan intelektual perempuan melalui pendidikan, mentoring, jejaring, kolaborasi lintas sektor, pendanaan riset, perlindungan dari kekerasan, kebijakan organisasi yang adil, pengakuan terhadap kerja perawatan, serta pembangunan ekosistem pengetahuan yang inklusif. Keseluruhan pembahasan bermuara pada visi masyarakat yang adil, demokratis, damai, berkeadaban, dan berkelanjutan. 

Buku ini relevan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, guru, aktivis, pemimpin organisasi, pengambil kebijakan, tokoh masyarakat, praktisi pembangunan, dan siapa pun yang percaya bahwa masa depan yang lebih manusiawi hanya dapat dibangun ketika perempuan memperoleh ruang yang setara untuk berpikir, berbicara, menulis, memimpin, dan menentukan arah peradaban.
 

Stok Kosong