Menu

Menjiwai Dimensi Waktu Ala Datuak Majo Nan Sati

Penulis : Nama
Ukuran : 14 x 20 cm
Tebal : xviii + 265 hlm.
ISBN : 978-623-466-063-0
Cover : Soft cover
Berat : 250 gr

Nabi Adam; awal mula manusia diciptakan dari segumpal tanah, dan diciptakan Hawa dari unsur Adam itu sendiri. Berasal dari segumpal tanah lalu diteruskan melalui segumpal darah berkembang menjadi banyak. Secara ekologi akhirnya berkembang biak dan membentuk komunitas, dari komunitas ini manusia berkembang menjadi suku bangsa hingga berdirinya negara-negara. Sepanjang sejarahnya waktu sudah ada sebelum manusia diciptakan serta makhluk-makhluk yang lain. Dalam perjalanannya tidak didapati informasi pada kita hari ini apakah jumlah waktu yang awal mula ada masih sama durasinya dengan waktu saat ini. Manusia hanya dapat mengukur waktu, hitungan berdasarkan detik, menit, dan jam. Dunia ini dikelilingi oleh waktu, siang, malam, pagi, petang. Dan Allah telah bersumpah dengan waktu-waktu tersebut. Bersama waktu manusia hidup, dan dengan waktu juga manusia mengakhiri hayatnya. Berkomitmen dengan waktu mengakhirinya juga dengan waktu.


Dunia ini akan berakhir bersama waktu. Waktu juga telah ditentukan kepada manusia untuk sujud kepada-Nya. Semua akan bergerak bersama waktunya. Setiap manusia pada lintas bidang kehidupan akan memperebutkan waktu itu. Dan sejumlah makhluk yang mendiami alam ini akan memanfaatkan waktu yang sama. Lalu bagaimana manusia memanfaatkan waktunya. Dengan akalnya manusia diberi kemampuan untuk memenej waktu, bukan mengukur skalanya apalagi mempersingkat dan memperpanjang waktu.
Sebagaimana waktu jiwa juga bagian yang abstrak, ia tidak berbentuk namun dapat disentuh melalui rasa. Ketika rasa menyatu dengan jiwa, maka setiap partikel waktu akan bersinergi. Dengan jiwanya manusia dapat merasakan apa yang tidak terlihat dengan mata dan tidak bisa diraba dengan indra, melalui jiwanya manusia dapat menentukan ke mana arah raga akan dibawa. Ketika jiwa menemukan momen, maka raga akan mendapatkan keberuntungan. Hanya jiwa-jiwa yang mampu membaca peluanglah akan dapat menguasai momen waktu apapun.namun jiwa berfungsi ke mana arah raga akan dibawa. Ketika jiwa menemukan momen, maka raga akan mendapatkan keberuntungan. Hanya jiwa-jiwa yang mampu membaca peluang akan dapat menguasai momen apapun.

Stok Kosong

Menjiwai Dimensi Waktu Ala Datuak Majo Nan Sati

Penulis : Nama
Ukuran : 14 x 20 cm
Tebal : xviii + 265 hlm.
ISBN : 978-623-466-063-0
Cover : Soft cover
Berat : 250 gr

Nabi Adam; awal mula manusia diciptakan dari segumpal tanah, dan diciptakan Hawa dari unsur Adam itu sendiri. Berasal dari segumpal tanah lalu diteruskan melalui segumpal darah berkembang menjadi banyak. Secara ekologi akhirnya berkembang biak dan membentuk komunitas, dari komunitas ini manusia berkembang menjadi suku bangsa hingga berdirinya negara-negara. Sepanjang sejarahnya waktu sudah ada sebelum manusia diciptakan serta makhluk-makhluk yang lain. Dalam perjalanannya tidak didapati informasi pada kita hari ini apakah jumlah waktu yang awal mula ada masih sama durasinya dengan waktu saat ini. Manusia hanya dapat mengukur waktu, hitungan berdasarkan detik, menit, dan jam. Dunia ini dikelilingi oleh waktu, siang, malam, pagi, petang. Dan Allah telah bersumpah dengan waktu-waktu tersebut. Bersama waktu manusia hidup, dan dengan waktu juga manusia mengakhiri hayatnya. Berkomitmen dengan waktu mengakhirinya juga dengan waktu.


Dunia ini akan berakhir bersama waktu. Waktu juga telah ditentukan kepada manusia untuk sujud kepada-Nya. Semua akan bergerak bersama waktunya. Setiap manusia pada lintas bidang kehidupan akan memperebutkan waktu itu. Dan sejumlah makhluk yang mendiami alam ini akan memanfaatkan waktu yang sama. Lalu bagaimana manusia memanfaatkan waktunya. Dengan akalnya manusia diberi kemampuan untuk memenej waktu, bukan mengukur skalanya apalagi mempersingkat dan memperpanjang waktu.
Sebagaimana waktu jiwa juga bagian yang abstrak, ia tidak berbentuk namun dapat disentuh melalui rasa. Ketika rasa menyatu dengan jiwa, maka setiap partikel waktu akan bersinergi. Dengan jiwanya manusia dapat merasakan apa yang tidak terlihat dengan mata dan tidak bisa diraba dengan indra, melalui jiwanya manusia dapat menentukan ke mana arah raga akan dibawa. Ketika jiwa menemukan momen, maka raga akan mendapatkan keberuntungan. Hanya jiwa-jiwa yang mampu membaca peluanglah akan dapat menguasai momen waktu apapun.namun jiwa berfungsi ke mana arah raga akan dibawa. Ketika jiwa menemukan momen, maka raga akan mendapatkan keberuntungan. Hanya jiwa-jiwa yang mampu membaca peluang akan dapat menguasai momen apapun.

Stok Kosong