Pengantar Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk Pemula: Pokok-pokok Ajaran Seputar Akidah, Fiqih, Tasawuf, Sosial, Politik, Kemasyarakat
| Penulis | : | Lukmanul Hakim |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | xiv + 117 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-248- |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Judul buku ini “Pengantar Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk Pemula: Pokok-Pokok Ajaran Seputar Akidah, Fiqih, Tasawuf, Sosial, Politik, Kemasyarakatan, Metode Dakwah, dan Akidah 50” adalah titik awal untuk mengenal ahlussunnah wal jama'ah bagi para jamaaah pengajian dan masyarakat umum. Diharapkan dengan hadirnya buku ini menjadi acuan dasar pemahaman ajaran Islam yang sebagaimana Nabi dan para salafussaleh dilanjut oleh guru-guru kita ajarkan sampai hari ini. Sehingga dengan membaca buku ini, para jamaah akan lebih percaya diri dan kuat dalam memegang ajaran yang selama ini kita amalkan, terlebih di tengah-tengah gempuran pemahaman Islam transnasional yang main babat habis setiap amaliah yang sudah lama kita amalkan - dengan dalih tidak diajarkan Nabi, tidak ada dalil Qur'an dan Hadisnya, dll.
Buku ini menjelaskan bagaimana Islam pada masa Nabi mampu menghadirkan wajah yang sangat gemilang sebagaimana misi yang diembannya, yaitu Islam rahmatan lil 'alamin. Namun, setelah kepergian beliau umat mulai kembali ke watak aslinya, di antaranya muncul benih-benih fanatik kesukuan yang menyebabkan terjadinya pertikaian, perbedaan pandangan yang berujung perpecahan, perebutan kekuasaan politik yang mengakibatkan umat Islam menjadi berbagai varian wajah keberagamaan, bahkan varian dalam pandangan akidah. Jabbariyyah, Qadariyah, Mu'tazilah, dan Khawarij, awalnya hanya varian politik lalu berujung pada varian akidah. Dan menjadi nampak jelas perpecahan itu muncul pada penghujung kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, perang saudara terjadi; perang Jamal dan perang Siffin sehingga terjadi pembunuhan berencana yang dilakukan misionaris Khawarij untuk membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Hanya khalifah Abu Bakar yang wafat secara wajar, sedangkan ketiga khalifah yang lain wafat karena terbunuh.
Penulis juga menjelaskan sekelumit tentang pengertian ahlussunnah wal jama'ah yang merupakan golongan yang selamat atau firqah an-najiyah, sebagaimana dalam beberapa hadis yang diutarakan dalam buku ini. Namun, menarik juga bagi penulis mendapati keterangan yang tidak biasanya berkaitan tentang hadis perpecahan. Ada yang disandarkan kepada keterangan bahwa “semua akan masuk surga, kecuali satu” yang di maksud satu itu adalah azzanadiq, yaitu orang yang menampakkan Islam padahal hatinya ingkar. lalu siapa golongan ahlussunnah wal jama'ah itu? Siapa golongan yang selamat itu? Bagaimana kriteria golongan yang selamat itu? Dalam buku ini tak banyak memberi jawaban yang memuaskan, namun sedikit dapat membuat kita menjadi sedikit lebih tenteram.
Pada dekade terakhir ini, beberapa mengaku ahlususnnah wal jama'ah, tetapi dalam praktiknya keluar dari ajaran ahlussunnah wal jama'ah, baik dalam berdakwah, berpolitik, amar makruf dan nahi munkar. Sering mudah menuduh bid'ah, musyrik, kafir, ghibah dalam berdakwah, mencaci maki, menebar fitnah, sweeping, dan lain-lain yang sangat jauh dari menjaga kebersamaan, persatuan dan persaudaraan, serta misi dakwah yang sebenarnya.
Tidak ketinggalan penulis berusaha menguraikan tentang firqah an-najiyah yang selama ini masih dalam tataran klaim dari masing-masing golongan yang berujung pada sebuah truth claim sehingga melahirkan kebenaran mutlak yang disematkan oleh yang merasa paling beragama, paling Islam, dan hanya dia saja yang berhak masuk surga, sementara yang lain masuk neraka, senang mengkafir-kafirkan, membid'ah, dan lain-lain yang sangat mengganggu ekspresi keberagamaan orang nusantara. Memang untuk mencari siapa firqah an-najiyah tidaklah mudah, tetapi penulis coba menguraikan dari beberapa sumber yang penulis miliki –sangat sedikit referensi penulis yang membahas tentang itu, setidaknya mendapatkan setitik benang merah untuk bisa meredam diri kita dari merasa paling benar sendiri dalam beragama seraya menyalahkan orang lain, menyerang yang berbeda pemahaman, berbeda ekspresi keberagamaan dan berbeda pilihan dalam politik dengan membabi buta seraya bawa-bawa agama dan kitab suci. Ahluusunnah wal jama'ah merupakan golongan yang berpegang teguh pada sunnah nabi, ajaran salafussaleh yang selalu menjaga kebersamaan. Atau golongan rahmatan lil ‘alamin, bukan golongan yang membawa keonaran, cacian, makian, perusakan, dan kekerasan sebagai solusi.
Stok Kosong
Pengantar Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk Pemula: Pokok-pokok Ajaran Seputar Akidah, Fiqih, Tasawuf, Sosial, Politik, Kemasyarakat
| Penulis | : | Lukmanul Hakim |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | xiv + 117 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-248- |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Judul buku ini “Pengantar Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk Pemula: Pokok-Pokok Ajaran Seputar Akidah, Fiqih, Tasawuf, Sosial, Politik, Kemasyarakatan, Metode Dakwah, dan Akidah 50” adalah titik awal untuk mengenal ahlussunnah wal jama'ah bagi para jamaaah pengajian dan masyarakat umum. Diharapkan dengan hadirnya buku ini menjadi acuan dasar pemahaman ajaran Islam yang sebagaimana Nabi dan para salafussaleh dilanjut oleh guru-guru kita ajarkan sampai hari ini. Sehingga dengan membaca buku ini, para jamaah akan lebih percaya diri dan kuat dalam memegang ajaran yang selama ini kita amalkan, terlebih di tengah-tengah gempuran pemahaman Islam transnasional yang main babat habis setiap amaliah yang sudah lama kita amalkan - dengan dalih tidak diajarkan Nabi, tidak ada dalil Qur'an dan Hadisnya, dll.
Buku ini menjelaskan bagaimana Islam pada masa Nabi mampu menghadirkan wajah yang sangat gemilang sebagaimana misi yang diembannya, yaitu Islam rahmatan lil 'alamin. Namun, setelah kepergian beliau umat mulai kembali ke watak aslinya, di antaranya muncul benih-benih fanatik kesukuan yang menyebabkan terjadinya pertikaian, perbedaan pandangan yang berujung perpecahan, perebutan kekuasaan politik yang mengakibatkan umat Islam menjadi berbagai varian wajah keberagamaan, bahkan varian dalam pandangan akidah. Jabbariyyah, Qadariyah, Mu'tazilah, dan Khawarij, awalnya hanya varian politik lalu berujung pada varian akidah. Dan menjadi nampak jelas perpecahan itu muncul pada penghujung kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, perang saudara terjadi; perang Jamal dan perang Siffin sehingga terjadi pembunuhan berencana yang dilakukan misionaris Khawarij untuk membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Hanya khalifah Abu Bakar yang wafat secara wajar, sedangkan ketiga khalifah yang lain wafat karena terbunuh.
Penulis juga menjelaskan sekelumit tentang pengertian ahlussunnah wal jama'ah yang merupakan golongan yang selamat atau firqah an-najiyah, sebagaimana dalam beberapa hadis yang diutarakan dalam buku ini. Namun, menarik juga bagi penulis mendapati keterangan yang tidak biasanya berkaitan tentang hadis perpecahan. Ada yang disandarkan kepada keterangan bahwa “semua akan masuk surga, kecuali satu” yang di maksud satu itu adalah azzanadiq, yaitu orang yang menampakkan Islam padahal hatinya ingkar. lalu siapa golongan ahlussunnah wal jama'ah itu? Siapa golongan yang selamat itu? Bagaimana kriteria golongan yang selamat itu? Dalam buku ini tak banyak memberi jawaban yang memuaskan, namun sedikit dapat membuat kita menjadi sedikit lebih tenteram.
Pada dekade terakhir ini, beberapa mengaku ahlususnnah wal jama'ah, tetapi dalam praktiknya keluar dari ajaran ahlussunnah wal jama'ah, baik dalam berdakwah, berpolitik, amar makruf dan nahi munkar. Sering mudah menuduh bid'ah, musyrik, kafir, ghibah dalam berdakwah, mencaci maki, menebar fitnah, sweeping, dan lain-lain yang sangat jauh dari menjaga kebersamaan, persatuan dan persaudaraan, serta misi dakwah yang sebenarnya.
Tidak ketinggalan penulis berusaha menguraikan tentang firqah an-najiyah yang selama ini masih dalam tataran klaim dari masing-masing golongan yang berujung pada sebuah truth claim sehingga melahirkan kebenaran mutlak yang disematkan oleh yang merasa paling beragama, paling Islam, dan hanya dia saja yang berhak masuk surga, sementara yang lain masuk neraka, senang mengkafir-kafirkan, membid'ah, dan lain-lain yang sangat mengganggu ekspresi keberagamaan orang nusantara. Memang untuk mencari siapa firqah an-najiyah tidaklah mudah, tetapi penulis coba menguraikan dari beberapa sumber yang penulis miliki –sangat sedikit referensi penulis yang membahas tentang itu, setidaknya mendapatkan setitik benang merah untuk bisa meredam diri kita dari merasa paling benar sendiri dalam beragama seraya menyalahkan orang lain, menyerang yang berbeda pemahaman, berbeda ekspresi keberagamaan dan berbeda pilihan dalam politik dengan membabi buta seraya bawa-bawa agama dan kitab suci. Ahluusunnah wal jama'ah merupakan golongan yang berpegang teguh pada sunnah nabi, ajaran salafussaleh yang selalu menjaga kebersamaan. Atau golongan rahmatan lil ‘alamin, bukan golongan yang membawa keonaran, cacian, makian, perusakan, dan kekerasan sebagai solusi.
Stok Kosong